Langkah strategis hilirisasi komoditas unggulan nasional kembali mencatatkan tonggak sejarah penting melalui kolaborasi internasional dan antar-lembaga pemerintah.
KomenNews.id // Jakarta – Provinsi Maluku resmi memperkuat posisinya di kancah global melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) senilai Rp500 miliar antara Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dan investor asal Jepang.
Kesepakatan bernilai fantastis ini disaksikan langsung oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Sarmuji, serta Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam ajang Sago Business Forum 2026 yang diselenggarakan di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Penandatanganan kerja sama ini menjadi simbol wujud nyata kolaborasi strategis antara Kementerian Perindustrian, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), serta pelaku usaha dan investor dari Jepang. Forum ini juga secara luas melibatkan jaringan kemitraan diplomatik dan kementerian terkait untuk mendorong komoditas sagu Indonesia menembus pasar internasional.
Sinergi Lintas Sektor dan Komitmen Ketahanan Pangan
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dalam keterangannya mengapresiasi sinergi yang terbangun. Ia mengungkapkan bahwa Maluku merupakan provinsi penghasil sagu terbesar ketiga di Indonesia setelah Riau dan Papua Tengah, di mana 35.000 hektare dari total 36.000 hektare lahan sagunya berada di Kabupaten SBT.
“Hilirisasi ini sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Sagu telah menjadi komoditas unggulan yang tercantum dalam RPJMN 2025–2029,” tutur Gubernur.
Ia menegaskan, pentingnya memperkuat komunikasi intensif antara Pemerintah Provinsi Maluku, Pemkab SBT, Kementerian Perindustrian, Bappenas, hingga kementerian terkait lainnya guna memastikan pengolahan sagu berbasis industri ini dapat ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada tahun 2027 mendatang. Integrasi ini juga memperkuat pilar hilirisasi daerah bersama komoditas kelapa dalam, pala, dan cengkih di Maluku Tengah serta ubi kayu di Buru Selatan.
Target Ekonomi, Lapangan Kerja, dan Konsep Industri ZERO WASTE
Bupati Seram Bagian Timur, Fachri Husni Alkatiri, menjelaskan bahwa proyek kolaboratif bersama investor Jepang ini berfokus pada peningkatan ekonomi daerah dan masyarakat lokal. Tahap awal investasi senilai Rp500 miliar tersebut ditargetkan menghasilkan produksi hingga 1.000 ton per bulan secara bertahap.
Kerja sama ini diproyeksikan memberikan dampak sosial-ekonomi yang besar melalui penyerapan tenaga kerja sebanyak 7.000 pekerja di area perkebunan/lapangan dan 300 pekerja profesional di dalam pabrik pengolahan.
” Menjawab kebutuhan pasar global dan arahan Kementerian Perindustrian terkait diversifikasi produk, industri ini dirancang dengan konsep zero waste (tanpa limbah). Seluruh bagian dari tanaman sagu akan dimanfaatkan secara maksimal—mulai dari penyediaan pangan hingga potensi pemanfaatan energi terbarukan—guna mengoptimalkan potensi pasar internasional yang terbuka lebar,” jelas Bupati.
Melalui kemitraan solid antara Kemenperin, Pemprov Maluku, Pemkab SBT, serta investasi modern dari Jepang ini, sagu dari Bumi Raja-Raja siap bertransformasi menjadi kekuatan baru dalam rantai pasok industri pangan dan energi global.



















