Oleh: Yulin de QUELJOE – Jurnalis
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, namun pekik “Merdeka!” kian samar tertutup deru mesin ekskavator dan tumbangnya pohon-pohon tua di pedalaman Nusantara. Di tengah retorika manis tentang pertumbuhan ekonomi dan transisi hijau global, peringatan HUT ke-81 RI justru menyajikan ironi yang menampar: kedaulatan ekologi kita sedang tergadaikan oleh kerakusan industri ekstraktif.
Ancaman perubahan iklim global bukan lagi sekadar bahaya abstrak tentang mencairnya es di kutub. Bagi Indonesia, krisis ini diperparah secara masif oleh pembongkaran bentang alam domestik lewat ekspansi usaha pertambangan yang brutal dan pembiaran penebangan liar (illegal logging) yang terus menggerogoti kawasan hutan lindung.
Dua Sisi Kehancuran Ekologis
- Pertambangan Tanpa Batas: Pembukaan lahan skala besar untuk pengerukan nikel, batu bara, hingga emas telah merusak struktur tanah dan mencemari sumber air. Di berbagai wilayah pesisir dan pulau kecil, limbah pertambangan merusak ekosistem laut, menghancurkan ruang tangkap nelayan, serta menggusur ruang hidup masyarakat adat demi keuntungan jangka pendek.
- Pembalakan Liar yang Merajalela: Penebangan liar yang terselubung terus mengikis hutan hujan tropis Nusantara—benteng terakhir penyerap emisi karbon dunia. Ketika pohon-pohon penahan air hilang, daya dukung lingkungan runtuh secara drastis, mempercepat pemanasan global sekaligus memicu bencana di tingkat lokal.
- Bencana Ekologis: Bukan Sekadar Faktor Alam
Pemerintah sering kali berlindung di balik narasi “bencana alam” atau “cuaca ekstrem akibat krisis iklim” saat banjir bandang dan tanah longsor melanda Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Ini adalah penyesatan fakta. Perubahan iklim global memang meningkatkan curah hujan, tetapi aktivitas pertambangan dan penebangan liarlah yang menghancurkan benteng pertahanan alaminya. Ketika hutan gundul dan bukit pangkas oleh tambang, air hujan tak lagi terserap dan langsung menerjang permukiman warga.
“Bagaimana kita bisa menyebut diri merdeka jika warga pesisir tersingkir oleh limbah tambang, dan petani di pedalaman kehilangan sawah akibat banjir kiriman dari hutan yang gundul?”
Kemerdekaan Semu di Tengah Krisis
Komitmen global Indonesia dalam menurunkan emisi karbon menjadi tolok ukur yang semu jika di dalam negeri penegakan hukum terhadap illegal logging masih tebang pilih dan izin eksplorasi tambang terus memakan kawasan konservasi. Kita sedang menukar masa depan ekologi jangka panjang demi pundi-pundi ekonomi segelintir korporasi.
Refleksi 81 tahun kemerdekaan harus menjadi momentum koreksi total. Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan bagi pemilik modal untuk mengeruk isi bumi Nusantara hingga tandus, melainkan keberanian negara untuk menghentikan perusakan alam dan menjamin hak atas lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang.




















