Bangunan Boleh Runtuh, Mental Anak Jangan: GPIB Jakarta Timur Kirim Bantuan untuk Penyintas Gempa NTT

banner 468x60

JAKARTA — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 tak hanya menyisakan kerusakan fisik. Di tengah kondisi darurat, kebutuhan anak-anak untuk kembali bersekolah juga menjadi perhatian.

Kondisi tersebut mendorong Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPC Jakarta Timur bersama sejumlah donatur dan masyarakat menggalang serta menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi para penyintas gempa NTT.

banner 336x280

Bantuan disalurkan melalui Post Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdana Kusuma, Jakarta, dan diterima oleh Ibu Winda, Koordinator BNPB Bantuan Gempa Bumi NTT.

Ketua GPIB DPC Jakarta Timur, Bapak Mohamad Amin, mengatakan aksi tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit pascabencana.

Namun bagi GPIB, bantuan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Anak-anak yang menjadi penyintas juga harus dipastikan tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

“Bangunan boleh runtuh, namun mental mereka jangan sampai runtuh. Itulah motivasi GPIB, supaya mereka bersekolah lagi,” ujar Bapak Mohamad Amin.

Menurut Bapak Amin, keberlangsungan pendidikan menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Karena itu, GPIB akan terus membuka kolaborasi dengan masyarakat, pengusaha, maupun para donatur untuk membantu kebutuhan anak-anak terdampak bencana.

Sejumlah bantuan berhasil dihimpun dalam aksi tersebut. Bapak Finawan Ateng menyumbangkan 480 pcs sari kacang hijau dan 200 pcs celana dalam baru.

Kemudian Bapak Kiki Irawan menyumbangkan 14 dus mie instan, sedangkan Bapak Sosidjono memberikan tujuh dus mie instan.

Bantuan juga datang dari Bapak David berupa 12 dus air mineral. Sementara masyarakat turut berpartisipasi dengan menyumbangkan 50 set pakaian sekolah baru untuk siswa SD, SMP, dan SMA.

Ibu Winda mengapresiasi kepedulian GPIB DPC Jakarta Timur beserta seluruh donatur yang ikut mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan tersebut.

“Alhamdulillah kami sudah terima dengan baik dan semoga bisa meringankan saudara-saudara kita yang ada di NTT. Kami sangat mengapresiasi dan bersyukur atas kepedulian dari teman-teman GPIB,” ujar Ibu Winda.

Menurut Ibu Winda, kebutuhan penyintas, khususnya anak-anak, masih cukup besar selama masa transisi darurat. Tidak hanya pakaian, kebutuhan pendidikan seperti alat tulis dan buku bacaan juga diperlukan.

“Beberapa kebutuhan mendesak seperti pakaian anak sekolah, alat tulis, dan buku bacaan. Itu memang kami perlukan di masa-masa transisi darurat seperti ini,” katanya.

Ibu Winda berharap kepedulian masyarakat terhadap penyintas gempa terus berlanjut sehingga proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat.

Penyaluran bantuan tersebut turut dihadiri Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Bapak Edy Dwiyanto, S.E., Ketua GPIB DPC Jakarta Timur Bapak Mohamad Amin, serta pengurus DPC GPIB Jakarta Timur, Ibu Monfris selaku bagian Kelembagaan dan Ibu Sri Rejeki selaku Bendahara.

Bagi GPIB Jakarta Timur, kepedulian terhadap korban bencana bukan sekadar aksi sesaat. Bantuan tersebut menjadi pesan bahwa anak-anak penyintas gempa di NTT tidak boleh kehilangan masa depan hanya karena bencana.

Saat bangunan harus dibangun kembali, semangat belajar anak-anak juga harus diselamatkan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *