Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta, Saipul Patta, beserta istri dan jajaran menghadiri kegiatan tradisi Husafara (Mandi Safar) yang diselenggarakan oleh perkumpulan perantau Jabodetabek Rumah Hitu di Pantai Lagoon, Ancol, Jakarta, Minggu (9/8/2026).

KomenNews.id //Jakarta – Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus ajang memperkuat pelestarian budaya Maluku di tanah perantauan.

Ketua Rumah Hitu, Faisal Pellu, mengungkapkan bahwa gagasan awal kegiatan ini bermula dari keinginan untuk menggelar momentum kebersamaan bagi warga Rumah Hitu yang sebelumnya belum pernah diadakan secara kolektif.

“Awalnya saya hanya punya ide untuk mengadakan Agustusan, di mana Rumah Hitu belum pernah mengadakan Agustusan bersama. Biasanya yang kita lakukan adalah di lingkungan rumah masing-masing. Saya punya ide dan ditanggap oleh Kepala Pemuda dan Kepala Rohani,” ujar Faisal.
Faisal menambahkan, dalam pelaksanaannya, pihak pengurus menyepakati untuk menyerahkan tanggung jawab penuh kepada generasi muda sebagai ajang pembuktian dan pengasahan potensi.

“Kita sepakati untuk memberikan tanggung jawabnya kepada anak muda. Mengapa? Sekarang sudah waktunya anak muda untuk mengasah kemampuannya, mempertajam ilmu apa pun, sehingga dia bisa bersaing di mana pun. Saya selaku ketua akan memberikan banyak tanggung jawab kepada anak muda karena dari merekalah kita bisa berkembang lebih jauh,” tegasnya membakar semangat.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Rahman Pellu, menyampaikan laporan serta apresiasi atas terselenggaranya kegiatan gabungan tradisi dan peringatan hari nasional ini.
“Kegiatan ini dilaksanakan sekaligus dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 di tanggal 17 Agustus, serta ritual tradisi Husafara. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari segala musibah dan keburukan,” kata Rahman.
Rahman juga menyampaikan permohonan maaf atas segala keterbatasan fasilitas maupun ketersediaan sarana selama acara berlangsung.

“Kami panitia memohon maaf sebesar-besarnya jika dalam penyelenggaraan acara Husafara ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi tempat, penyambutan, maupun jamuan yang kami sediakan. Saya mengajak kita semua untuk mengikuti acara ini dengan hikmat sampai pembacaan doa,” ungkap Rahman.
Dalam sambutannya, Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku, Saipul Patta, menyampaikan salam hormat dan apresiasi setinggi-tingginya dari Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath kepada keluarga besar Rumah Hitu yang konsisten menjaga warisan leluhur.
” Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku, kami memberikan apresiasi yang sangat besar kepada panitia dan seluruh masyarakat Hitu. Walaupun berada di tanah rantau, tradisi Husafara atau Mandi Safar tetap dihidupkan dan dirawat,” ujar Saipul.

Saipul menjelaskan bahwa tradisi Husafara tidak sekadar atraksi budaya atau agenda tahunan biasa, melainkan memiliki tiga makna penting:
-
Pembersihan Jiwa dan Penolak Bala: Sebagai bentuk penyucian batin (tazkiyatun nafs) serta ikhtiar memohon perlindungan Allah SWT dari segala bencana dan kemudaratan.
-
Pelestarian Warisan Leluhur: Membuktikan bahwa generasi muda Maluku tidak melupakan akar sejarah dan budayanya meski menetap di perantauan.
-
Ajang Silaturahmi: Menjadi wadah mempererat tali persaudaraan antarwarga perantauan yang tersebar di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).
Melihat potensi besar kegiatan tersebut, Pemprov Maluku berencana berdiskusi lebih lanjut dengan jajaran dinas terkait dan pemerintah setempat agar tradisi ini dapat masuk dalam kalender agenda pariwisata di Jakarta.

“Ke depan, kita akan upayakan agar acara ini bisa dilaksanakan lebih meriah dan dikolaborasikan dengan agenda pariwisata daerah. Kita syiarkan warisan orang tua-tua kita kepada masyarakat yang lebih luas,” tambahnya.
Selain menekankan pentingnya melestarikan budaya, Kepala Badan Penghubung juga mengajak seluruh warga Rumah Hitu untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah, selalu menjaga ketertiban dan keamanan di perantauan, serta menjadikan momen kebudayaan ini sebagai sarana menghentikan segala bentuk konflik antardesa di kampung halaman.
“Mari kita satukan hati, bersihkan diri, dan memohon doa agar negeri kita dijauhkan dari segala perselisihan. Mari kita saling merangkul menjaga kedamaian, baik di rantau maupun di kampung halaman,” tegas Saipul.
Acara tradisi Musafara ini ditutup dengan doa bersama dan prosesi mandi laut bersama sebagai lambang penyucian diri dan penolak bala, dilanjutkan dengan ramah tamah antarwarga perantauan.













