Semangat ajaran Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) yang diwariskan Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, mengema di bumi Maluku. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bung Karno dan Bulan Bung Karno, Anggota Komisi III DPR RI asal daerah pemilihan Maluku, Mercy Chriesty Barends, menggelar aksi nyata dengan merangkul para petani dan penyuluh pertanian di Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Senin (20/7/2026).

KomenNews.id //Leihitu Barat – Melalu tema “Cengkih,Pala dan Petani Rempah : Merawat Warisan Leluhur, Menggerakan Ekonomi Kepulauan di Maluku” ini, digelar kunjungan lapangan dan dialog kerakyatan ini digelar di tengah ancaman krisis sektor pertanian lokal tersebut, dalam konsep Diskusi Publik dan Jaring Aspirasi. Ratusan ribu bibit cengkih dan pala berkualitas tinggi di sejumlah titik Pulau Ambon—seperti Liliboy, Hatu, hingga Alang—terancam membusuk dan terbuang menjadi limbah akibat kebijakan efisiensi dan pemangkasan anggaran pemerintah pusat maupun daerah.
Meskipun saat ini mengemban amanat di Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan, Srikandi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa perjuangan membela hak-hak ekonomi rakyat kecil serta menyelamatkan warisan rempah leluhur adalah wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai kebangsaan Bung Karno.
“Bibit ini bukan sekadar tanaman. Ini adalah identitas, warisan leluhur, sekaligus sumber penghidupan utama masyarakat Maluku. Memperingati HUT Bung Karno bukan sekadar seremonial, tetapi tentang bagaimana kita mengamalkan ajaran Berdikari di bidang ekonomi. Keterbatasan anggaran tidak boleh membuat kita menyerah!” tegas Mercy membakar semangat para petani.
Gelorakan Gotong Royong: Pemdes, Swasta, dan BUMN Harus Bergerak
Meneladani prinsip gotong royong Bung Karno, Mercy mendorong semua pihak untuk tidak saling menunjuk, melainkan bergandengan tangan mencari solusi kreatif atas keterbatasan APBN/APBD. Ia menyerukan gerakan bersama untuk menyelamatkan bibit-bibit unggul tersebut:
-
Optimalisasi Dana Desa: Pemerintah Desa (Pemdes) didorong memanfaatkan Alokasi Dana Desa (ADD) maupun sumber pendapatan desa lainnya untuk menyerap bibit rempah rakyat. Langkah ini tak hanya menyelamatkan tanaman, tetapi juga memutar roda ekonomi antarwilayah.
-
Sinergi CSR BUMN & Swasta: Pihak swasta dan BUMN diimbau hadir mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu pengadaan bibit bagi para petani.
-
Pemetaan Potensi Kawasan: Penyuluh pertanian diminta mendampingi warga dalam menghitung dan memetakan nilai komparatif serta potensi ekonomi di setiap kawasan produksi secara presisi.
Tantang Generasi Muda Kuasai Pemasaran Digital
Tak hanya persoalan bibit, Mercy menyoroti mata rantai pemasaran yang kerap merugikan petani. Menurutnya, di era modern ini, kedaulatan ekonomi desa harus didukung oleh penguasaan teknologi oleh generasi muda.
Ia meminta pemerintah desa mulai mengumpulkan anak-anak muda lokal untuk difasilitasi menjadi agen pemasar digital bagi produk-produk unggulan desa.
“Anak-anak muda harus berada di barisan depan. Manfaatkan platform digital untuk mempromosikan komoditas unggulan kita—mulai dari cengkih, pala, sagu, kelapa, hingga hasil perikanan—agar produk desa kita mampu menembus pasar nasional bahkan dunia,” imbaunya.
“Kehadiran Ibu Mercy memberi motivasi besar bagi kami generasi muda untuk terus mengelola kebun warisan keluarga. Selama ini kami sudah memanfaatkan media sosial untuk promosi, dan pendampingan seperti ini sangat kami butuhkan,” tutur Yogi, salah 1 penyuluh yang turut hadir di acara tersebut.
Harapan Penyuluh dan Prospek Program Satu Juta Bibit
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Kecamatan Leihitu Barat, Richard Amahorsea, memaparkan bahwa saat ini terdapat sembilan penyuluh yang mendampingi petani di lima negeri (Hatu, Liliboi, Alang, Larike, Wakasihu) serta kawasan petuanan Tanjung Sia.
Richard menjelaskan, fokus penyuluh adalah pembinaan teknik pemanfaatan lahan dan pembuatan pupuk organik mandiri, sebab kewenangan mereka terbatas pada aspek teknis.
Di akhir dialog, Richard membawa angin segar terkait rencana pemerintah pusat yang sedang menyiapkan program distribusi sekitar satu juta bibit pala pada tahun depan dengan pusat distribusi di Kecamatan Seram Utara.
“Kami sangat berharap program satu juta bibit pala ini nantinya dapat terealisasi dengan baik, sehingga mampu membangkitkan kembali kejayaan rempah Maluku di mata dunia,” tutup Richard.
Dikesempatan tersebut, Mercy Barends menyerahkan bantuan anggaran untuk renovasi Kantor Badan Penyuluh Pertanian di Kecamatan Leihitu Barat yang rusak.




















