Jelang Hari Tani Nasional 2026, Aliansi Mahasiswa Tani Nusantara Soroti Masa Depan Petani dan Arah Reforma Agraria

Berita55 Dilihat
banner 468x60

Tangerang Selatan, 15 September 2026 — Menjelang peringatan Hari Tani Nasional 2026, Aliansi Mahasiswa Tani Nusantara (AMTAN) menggelar Diskusi Publik dengan tema “Hari Tani Nasional 2026: Membaca Ulang Reforma Agraria dan Masa Depan Petani Indonesia” di Gerak Gerik Coffee, Tangerang Selatan, Senin (15/9/2026).

Diskusi ini menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali perjalanan reforma agraria di Indonesia sekaligus membicarakan berbagai tantangan yang masih dihadapi petani. Bagi AMTAN, Hari Tani Nasional tidak semata-mata menjadi agenda seremonial, tetapi momentum untuk membuka kembali pembicaraan mengenai posisi petani dalam pembangunan nasional.

banner 336x280

Reforma agraria sendiri tidak hanya berkaitan dengan persoalan kepemilikan atau legalisasi tanah. Dalam pelaksanaannya, reforma agraria juga berkaitan dengan penataan akses, kepastian hukum atas tanah, produktivitas lahan, pemberdayaan petani, pembiayaan, teknologi, hingga akses terhadap pasar. Kementerian ATR/BPN juga menyebut sejumlah tantangan pelaksanaan reforma agraria, antara lain ketepatan sasaran penerima manfaat, ketersediaan objek reforma agraria, serta kesinambungan antara penataan aset dan penataan akses.

Karena itu, pembicaraan mengenai masa depan petani perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Petani tidak cukup hanya diposisikan sebagai penerima program, tetapi juga sebagai subjek utama dalam pembangunan sektor pertanian dan pangan nasional.

Di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan, keberadaan petani menjadi semakin strategis. Persoalannya kemudian adalah bagaimana kebijakan agraria dan pertanian dapat memastikan petani memiliki akses yang memadai terhadap tanah, sarana produksi, teknologi, pembiayaan, serta pasar yang berkeadilan.

Muhammad Mahdy: Hari Tani Harus Menjadi Momentum Membaca Ulang Arah Kebijakan Agraria
Koordinator Aliansi Mahasiswa Tani Nusantara sekaligus narasumber dalam diskusi, Muhammad Mahdy, mengatakan bahwa Hari Tani Nasional harus menjadi momentum untuk melihat kondisi petani secara lebih kritis dan menyeluruh.

“Hari Tani Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Ini adalah momentum bagi kita untuk membaca kembali bagaimana reforma agraria dijalankan dan bagaimana masa depan petani Indonesia ditempatkan dalam agenda pembangunan nasional. Kita perlu memastikan bahwa tanah, kebijakan pertanian, dan sumber daya agraria benar-benar memberikan manfaat bagi mereka yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian,” ujar Muhammad Mahdy.

Menurut Mahdy, reforma agraria perlu dipahami sebagai proses yang tidak berhenti pada persoalan administrasi pertanahan.

“Reforma agraria tidak boleh berhenti pada pembagian atau legalisasi tanah. Setelah petani mendapatkan akses terhadap tanah, harus ada dukungan agar tanah tersebut produktif dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Karena itu, reforma agraria harus terhubung dengan akses modal, teknologi, pendampingan, infrastruktur, perlindungan harga dan akses pasar,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan pemerintah yang menempatkan reforma agraria bukan hanya pada penataan aset, tetapi juga penataan akses agar tanah yang diberikan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Mahdy juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam isu agraria dan pertanian.

“Anak muda tidak boleh merasa bahwa persoalan agraria hanya urusan petani hari ini. Ini juga menyangkut masa depan generasi kita. Kalau persoalan tanah, regenerasi petani, produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani tidak kita bicarakan sejak sekarang, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan pangan Indonesia,” lanjutnya.

Membaca Ulang Reforma Agraria, Menatap Masa Depan Petani
Diskusi publik ini juga menjadi bagian dari upaya AMTAN mendorong ruang dialog yang mempertemukan perspektif mahasiswa, generasi muda, dan masyarakat dalam melihat persoalan pertanian dan agraria.

Momentum Hari Tani Nasional 2026 diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat perhatian terhadap persoalan petani sekaligus mendorong evaluasi terhadap kebijakan agraria yang telah berjalan.

Bagi AMTAN, masa depan pertanian Indonesia tidak dapat dilepaskan dari masa depan petaninya. Kedaulatan pangan membutuhkan petani yang memiliki akses terhadap tanah, sumber daya produksi, teknologi, pembiayaan, serta pasar yang memadai.

Muhammad Mahdy menutup pernyataannya dengan menyampaikan ucapan kepada seluruh petani Indonesia.

“Atas nama Aliansi Mahasiswa Tani Nusantara, saya mengucapkan Selamat Hari Tani Nasional 2026 kepada seluruh petani Indonesia. Terima kasih atas kerja keras para petani yang terus menjaga pangan negeri ini. Semoga Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk memperkuat keberpihakan terhadap petani, memperjuangkan keadilan agraria, dan membangun masa depan pertanian Indonesia yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.”

Selamat Hari Tani Nasional 2026.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *