Sebuah pesan mendalam dan penuh empati disampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat Maluku di Jakarta, Ahmad Ohoitenan atau akrab disapa Umar Kei. Di tengah keprihatinan atas konflik dan pertikaian yang kembali berulang di tanah kelahirannya, ia menyuarakan ajakan damai yang menyentuh sanubari seluruh baku saudara (saudara-saudari) Maluku.
KomenNews.id // Jakarta – Dengan nada bicara yang tulus dan penuh ketegasan, Ketua Umum Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), mengingatkan, kembali penderitaan panjang yang telah dilalui masyarakat Maluku sejak konflik masa lalu.
“Saya hanya berkata bahwa tidak ada kata penyesalan yang datang di awal. Penyesalan itu selalu datang di akhir. Dari kejadian kerusuhan tahun ’98 sampai hari ini, apakah ada yang mendapat berlian? Mendapat hadiah khusus dalam setiap pertikaian? Tidak pernah ada. Yang ada hanyalah penyesalan dan penyesalan,” tegasnya, usai bertemu Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Jumat (18/9/2026) di Mess Maluku,Jakarta .
Menjaga Kedamaian Demi Masa Depan Anak Cucu
Ia menceritakan pengalamannya turun langsung ke daerah-daerah yang dilanda pertikaian untuk merangkul masyarakat. Menurutnya, konflik yang terus berulang hanya akan merugikan masyarakat Maluku sendiri, terutama generasi muda.
Setiap tahunnya, ribuan sarjana lulusan perguruan tinggi di Maluku membutuhkan lapangan pekerjaan dan masa depan yang cerah. Namun, investasi dan pembangunan ekonomi yang seharusnya masuk untuk membuka lapangan kerja sering kali terhambat atau ragu masuk karena situasi keamanan yang tidak stabil.
“Hari ini saya membawa investor untuk membantu membangun Maluku. Tapi mereka masih berpikir dua kali karena adanya kerusuhan demi kerusuhan. Jika kita terus bertikai, tenaga kerja yang dibutuhkan di Maluku akhirnya diambil dari luar, dan anak-anak kita kembali gigit jari,” ujarnya.
Saatnya Baku Sayang dan Baku Kele
Di akhir pesannya, ia mengajak seluruh keluarga besar Maluku, baik yang ada di tanah kelahiran maupun di perantauan, untuk menyudahi segala bentuk perselisihan. Ia menekankan pentingnya persatuan (baku sayang dan baku kele / saling menyayangi dan merangkul) untuk mendukung pemerintah daerah dalam membangun Maluku yang lebih sejahtera.
“Mari katong (kita) dukung Gubernur Maluku dan Wakil Gubernur untuk membangun Maluku yang lebih baik. Stop sudah bertikai. Mari katong baku sayang, baku kele, agar katong bisa bangun Maluku yang lebih baik,” pungkasnya penuh harap.














