Sebuah momentum bersejarah bagi masyarakat adat Maluku, khususnya Hatuhaha, baru saja terukir di Auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Besar Masyarakat Rohomoni (DPP IKABAMAR) periode 2026–2029 secara resmi dilantik pada Sabtu, 18 Juli 2026.

KomenNews.id // Depok, Jawa Barat – Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Ali Sangadji, Sekretaris Jenderal Abdul S. Sagadji, Panglima Besar Basir Sangadji, dan Bendahara Umum Jaka Pattiasina, IKABAMAR membawa visi besar. Mengangkat tema “Memperkuat Persaudaraan dan Kolaborasi untuk Maluku Maju Menuju Indonesia Emas 2045”, prosesi pelantikan ini bukan sekadar seremonial administratif, melainkan sebuah maklumat transformasi sosial dan intelektual.
Acara yang berlangsung megah di lingkungan Universitas Indonesia (UI) ini dihadiri oleh deretan tokoh penting berskala regional hingga nasional. Mulai dari Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Dr. Bob Hasan, Tenaga Ahli Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan RI Irvan Sangadji, Anggota DPRD DKI Jakarta Ongen Sangadji, hingga jajaran perwira tinggi TNI-Polri seperti Brigjen Said Latuconsina, Letjen (Purn) Suadi Marasabessy, Brigjen TNI Mar Ludy Prasetyo, dan Brigjen Pol Hassanudin.
Di balik kemeriahan acara, sorotan utama tertuju pada petuah, harapan, dan pesan mendalam dari Pemerintah Daerah serta para tokoh nasional dan sesepuh (Kuruhaji). Mereka memberikan catatan penting sekaligus tantangan riil bagi kepengurusan baru ini.
Gubernur Maluku: IKABAMAR Adalah Modal Sosial Pembangunan Daerah
Pemerintah Provinsi Maluku menaruh atensi besar atas pelantikan ini. Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta, Saipul Indra Patta, menegaskan bahwa pelantikan ini adalah tahapan krusial bagi keabsahan dan roda organisasi ke depan.
Dalam pesannya, Gubernur menekankan bahwa eksistensi IKABAMAR memiliki posisi strategis sebagai modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan Maluku.
“Modal sosial adalah norma informal yang memiliki kemampuan mendorong kerja sama, kolaborasi, dan rasa saling percaya (mutual trust) di antara anggota masyarakat. Saya berharap pengurus IKABAMAR dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya agar organisasi ini benar-benar berdaya guna dan berhasil guna untuk tanah Maluku yang kita cintai,” ungkap Gubernur melalui Saipul Indra Patta.
Lebih lanjut, Gubernur mengajak seluruh pengurus dan warga Rohomoni di Jakarta untuk menjadi motor penggerak kerukunan antarsuku, etnis, dan agama di ibu kota. IKABAMAR diharapkan mampu memberikan keteladanan tentang bagaimana hidup berdampingan secara damai dan kondusif di tengah masyarakat urban yang heterogen.
“Saya yakin IKABAMAR bisa menjadi contoh paguyuban yang inklusif, bersahabat, dan siap berkolaborasi dengan saudara-saudara dari etnis lain. Teruslah jalin komunikasi dan silaturahmi agar keharmonisan ini tetap terpelihara subur,” tambahnya.
Tak lupa, atas nama Pemprov Maluku, apresiasi setinggi-tingginya disampaikan kepada Universitas Indonesia, khususnya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI), yang telah memfasilitasi auditorium megah sebagai tempat lahirnya semangat baru masyarakat Rohumuli ini.
Dr. Bob Hasan: Menantang Peran Inteligensia Muda Maluku dalam Anggaran Daerah
Kehadiran Ketua Baleg DPR RI, Dr. Bob Hasan, membawa warna tersendiri. Di hadapan para pengurus dan sesepuh, Bob Hasan langsung memberikan pandangan kritis yang menantang sekaligus menaruh harapan besar pada pemuda-pemudi Maluku, khususnya yang berada di lingkaran IKABAMAR.
Secara khusus, ia mengapresiasi dan menitipkan kepercayaan kepada jajaran tenaga ahlinya yang berasal dari tanah Maluku, seperti Doli Sangaji dan Yusuf Sekedi yang berkiprah di Komisi III dan Badan Legislasi, serta nama lain seperti Galih yang menempati posisi strategis. Bagi Bob Hasan, menaruh hormat pada para senior adat harus dibarengi dengan memberikan panggung nyata bagi anak-anak muda berpotensi.
“Tidak ada gunanya acara megah seperti ini tanpa keterlibatan pemuda-pemudi Indonesia yang paham arah bangsa. Di era mobilisasi yang luar biasa seperti sekarang, tantangannya jauh berbeda,” ujar Bob Hasan.
Ia kemudian menyoroti isu krusial mengenai ketimpangan pembangunan infrastruktur di daerah dan realisasi anggaran yang kerap terhambat akibat persoalan administrasi serta hilangnya jembatan komunikasi antar-klaster. Bob Hasan secara blak-blakan membuka tabir mengapa anggaran pembangunan jalan dan jembatan di daerah seringkali mandek atau ditarik kembali dari tahun ke tahun.
“Bupati dan Gubernur itu bertuan (bertanggung jawab), tetapi skema anggaran pusat seperti dana Banpres atau model Dapo SPPD senilai triliunan rupiah kini bisa langsung bergulir tanpa hambatan birokrasi yang berbelit hingga ke tingkat desa. Pertanyaannya, jika dana itu disebar ke desa-desa, tetapi tidak dikawal oleh masyarakat yang berbasis adat dan berintelektual, maka yang terjadi hanyalah politik populis yang kosong tanpa substansi,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Bob Hasan menekankan pentingnya organisasi seperti IKABAMAR untuk menjadi jembatan solusi agar pembangunan fisik seperti jembatan dan jalan di Maluku benar-benar terealisasi. “Mana mungkin seorang Gubernur tidak mau membangun jembatan di daerahnya sendiri? Di sinilah peran anak-anak muda cerdas IKABAMAR untuk mengawal, bercakap dengan data, dan memastikan anggaran pusat itu mendarat demi kesejahteraan rakyat,” tantangnya.
Kuruhaji Letjen (Purn) Suadi Marasabessy: “IKABAMAR Berani Keluar dari Labirin Konvensional”
Sesepuh Hatuhaha Tuhaha sekaligus tokoh nasional, Letjen (Purn) Suadi Marasabessy, tidak dapat menyembunyikan rasa bangga sekaligus kagumnya. Baginya, IKABAMAR periode ini menunjukkan kelas yang berbeda sejak awal, salah satunya terlihat dari pemilihan lokasi pelantikan di kampus perjuangan, Universitas Indonesia.
“Biasanya kegiatan organisasi paguyuban itu di Bumi Perkemahan Cibubur atau di dalam aula hotel. Tapi ini kok bisa dapat tempat di UI? Ini luar biasa,” seloroh Suadi yang disambut tawa hangat hadirin.
Lebih jauh, mantan Kasum TNI ini mengingatkan bahwa pemilihan tempat ini membawa konsekuensi dan tanggung jawab moral yang besar. Kampus UI adalah simbol kebebasan berpikir, keragaman ide, dan pusat intelektual. Kehadiran IKABAMAR di sini mencerminkan kedewasaan berpikir masyarakat Rohumuli yang tidak lagi hanya berbicara tentang lingkup lokal.
“Pandangan ke depannya sungguh sangat hebat. Organisasi ini tidak hanya berbicara tentang Rohomoni, tidak hanya berbicara tentang Maluku, tetapi juga tentang kontribusi untuk Indonesia Maju 2045. Ini modal dasar yang sangat bagus. Saya berharap tema yang digaungkan bukan sekadar pajangan, tapi benar-benar diwujudkan demi kejayaan bersama,” tegas Suadi.
Kuruhaji Brigjen Said Latuconsina: “Jadikan Sejarah Emas Rohomoni sebagai Cerminan Bergerak”
Pesan yang tak kalah menggetarkan datang dari Staf Khusus Kasal, Brigjen Said Latuconsina, yang juga merupakan tokoh nasional Hatuhaha Tuhaha dan Kuruhaji. Ia memberikan refleksi historis yang mendalam mengenai Negeri Rohomoni sebagai bagian dari persekutuan 5 negeri adat di Pulau Haruku (Kailolo, Kabauw, Hulaliu, Pelauw, dan Rohomoni).
Said mengingatkan generasi muda IKABAMAR untuk tidak melupakan sejarah perjuangan panjang para leluhur sejak abad ke-16 dan ke-17. Ia secara khusus mengangkat nama Abdul Muthalib Sangaji, tokoh pergerakan asal Rohomoni yang berjuang bersama HOS Tjokroaminoto dan Agus Salim di Sarekat Islam, serta menjadi bagian dari sejarah BPUPKI dalam merumuskan dasar negara Indonesia. Saat ini, gelar Pahlawan Nasional untuk beliau tengah diperjuangkan di tingkat pusat.
“Kenapa sejarah ini selalu saya sampaikan? Karena ini adalah cerminan bagi generasi masa depan. Kita harus melihat masa lalu untuk tahu bagaimana kita berbuat hari ini dan hari esok,” ujar Said.
Said menegaskan bahwa DPP IKABAMAR hari ini dihuni oleh tokoh-tokoh muda yang tangguh di berbagai sektor strategis: pemerintahan, hukum, politik, pendidikan, hingga pertahanan dan keamanan.
“Mereka yang tampil hari ini bukan tokoh ‘kaleng-kaleng’. Ini adalah modal sosial dan intelektual yang besar. Saya menitipkan pesan agar IKABAMAR menjadi wadah yang kokoh untuk mempersatukan semua kekuatan ini. Jika kita bersatu, tidak ada cita-cita yang mustahil untuk diraih,” tambahnya.
Ongen Sangadji: “Saatnya Anak Maluku Berkompetisi Sehat di Panggung Nasional”
Menutup rangkaian pesan dari para tokoh, Anggota DPRD DKI Jakarta yang juga tokoh Hatuhaha, Ongen Sangadji, membakar semangat para pengurus dengan orasi yang progresif. Ongen menyatakan dukungannya terhadap transformasi paradigma anak-anak Maluku di tanah rantau.
“Anak-anak Maluku sekarang sudah bertransformasi. Kalau dulu kita sering diidentikkan dengan kehidupan jalanan, hari ini kita hadir di ruang-ruang strategis daerah dan nasional. Kita siap berkompetisi dan berkontribusi secara sehat. Kalau dibilang kita mampu, kita jauh lebih mampu!,” seru Ongen disambut aplaus meriah.
Ongen pun menantang dan menagih janji Ketua Umum Ali Sangadji untuk segera merealisasikan program-program inovatifnya. Ia membuka pintu lebar-lebar untuk kolaborasi nyata dan menolak narasi bahwa orang Maluku adalah kelompok yang kecil.
“Adik-adik saya di kepengurusan ini adalah orang-orang pintar. Kita buktikan kepada semua pihak bahwa IKABAMAR dan organisasi paguyuban lainnya asal Maluku di tanah rantau ini, bisa memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa dan negara. Saya menunggu aksi nyatanya, dan saya siap bekerja sama,” pungkasnya.
Komitmen Ali Sangadji: IKABAMAR sebagai Garda Intelektual
Merespons pesan-pesan kuat serta tantangan terbuka dari Pemprov Maluku, para Kuruhaji, dan Ketua Baleg DPR RI, Ketua Umum DPP IKABAMAR Ali Sangadji menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi ini berlari dalam satu napas perubahan.
Dalam sambutannya yang sarat akan nilai spiritual dan filosofis, Ali menyatakan bahwa IKABAMAR 2026–2029 akan memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dan laboratorium ide bagi kemakmuran sosial.
“Kami tidak bisa lagi bergerak dengan cara konvensional. IKABAMAR harus menjadi organisasi yang cerdas, inovatif, dan adaptif. Kita akan buktikan bahwa paguyuban ini bukan hanya komunitas yang harmonis secara sosial, tetapi juga unggul secara intelektual dan berdampak secara nasional,” tegas Ali Sangadji menutup komitmen kepengurusannya.
Dengan kepengurusan yang solid dan restu yang kuat dari pemerintah daerah serta para tokoh nasional, DPP IKABAMAR periode 2026–2029 kini resmi memulai langkahnya. Menjaga warisan luhur masa lalu, sembari menatap cerahnya pengabdian menuju Indonesia Emas 2045.














