Wakil Wali (Wawali) Kota Tual, Amir Rumra, memaparkan lompatan besar yang dicapai oleh Kampung Nelayan Merah Putih percontohan di Kota Tual, Maluku,Kamis (02/06/2026). Di hadapan jajaran Direktur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta perwakilan PT Pertamina (Persero), Amir mengungkapkan bahwa program percontohan tersebut telah nyata menggerakkan roda ekonomi hilirisasi perikanan lokal, bahkan sebelum fasilitas tersebut diserahterimahkan secara resmi.
KomenNews.id // Jakarta – Laporan strategis ini disampaikan dalam Diskusi Panel III yang mengusung tema “Tata Kelola Akselerasi/Strategi Program Kerja Prioritas Nasional Bidang Perikanan Tangkap”. Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) KKP yang berfokus pada Akselerasi Program Kerja dan Topik Swasembada Pangan.
Efek Domino Ekonomi: 15 Ton Ikan Tembus Halmahera Tengah
Amir Rumra menegaskan, berkat kolaborasi yang solid antara Pemerintah Kota Tual, masyarakat ohoi (desa), dan pihak ketiga, Kampung Nelayan Merah Putih berhasil melakukan pengiriman perdana sebanyak 15 ton ikan ke Halmahera Tengah, Maluku Utara.
“Kami langsung action. Walaupun belum ada serah terima resmi, pengiriman pertama 15 ton ikan ke Halmahera Tengah sudah berjalan sukses. Ini adalah bukti nyata kolaborasi di lapangan,” ujar Wawali di hadapan para panelis dan peserta Rakornas.
Aktivitas logistik ini terbukti menciptakan dampak ekonomi berganda (multiplier effect) yang langsung dirasakan oleh berbagai lini masyarakat di desa setempat. Amir merinci distribusi nilai tambah ekonomi dari setiap kilogram ikan yang berhasil dipasarkan:
* Pendapatan Asli Daerah (PAD) Ohoi/Desa: Mendapatkan Rp1.000,- per kilogram.
* Insentif Pemuda: Dialokasikan Rp500,- per kilogram untuk menggerakkan organisasi pemuda setempat.
* Koperasi Desa: Mengantongi Rp1.000,- per kilogram. Dari pengiriman perdana ini saja, koperasi berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp15.000.000,-.
Pemberdayaan Gender dan Penyerapan Tenaga Kerja
Selain menyumbang devisa daerah, proyek percontohan ini menjadi motor penggerak lapangan kerja baru di Kota Tual. Sebanyak 70 tenaga kerja lokal terserap dalam ekosistem ini, termasuk di dalamnya keterlibatan aktif 18 pekerja perempuan dan 12 pekerja laki-laki pada sektor-sektor kunci produksi.
“Intervensi program ini tidak hanya bicara tentang angka produksi, tapi tentang bagaimana perempuan dan pemuda di desa ikut memegang peranan penting dalam rantai pasok swasembada pangan ini,” tambahnya.
Ekspansi Target: Membidik Pasar Timika
Melihat kesuksesan perdana ini, Pemerintah Kota Tual tidak ingin membuang momentum. Amir memproyeksikan pengiriman fase kedua sebesar 12 hingga 13 ton ikan akan segera diberangkatkan ke jalur logistik yang sama dalam waktu dekat.
Lebih jauh, di hadapan KKP dan Pertamina selaku mitra strategis, Amir membocorkan rencana ekspansi pasar baru yang lebih menantang.
“Saat ini kami sedang membangun penjajakan kerja sama untuk membuka jalur pengiriman baru ke Timika, Papua Tengah. Kami optimistis, dengan tata kelola akselerasi yang tepat, Kota Tual siap menjadi pilar penting dalam menyokong swasembada pangan sektor perikanan tangkap nasional,” pungkasnya optimis.
Laporan konkret dari lapangan ini mendapat apresiasi positif dalam diskusi panel, sekaligus menjadi role model bagaimana akselerasi program prioritas nasional bidang perikanan mampu diserap cepat dan mandiri oleh masyarakat pesisir Timur Indonesia.














