Rupiah Melemah, Dompet Menjerit; PMKRI Pematangsiantar Bedah Dampak Nyata bagi Masyarakat Kecil dan Menengah.

Berita, Daerah9 Dilihat
banner 468x60

Lince Sipayung, S.M., M.M,  Bendahara Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Periode 2022-2024,* tampil sebagai narasumber dalam diskusi publik bertajuk “Rupiah Melemah, Dompet Menjerit: Menggali Dampak Nyata bagi Masyarakat Kecil dan Menengah” yang diselenggarakan di Margasiswa PMKRI Pematangsiantar, Senin(21/06/2026).

KomenNews.Id||Pematangsianta – Dalam paparannya, Lince mengungkap fakta mengkhawatirkan bahwa pada tahun 2026 nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS, menjadikannya rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Pelemahan ini bukan terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi tekanan bertahun-tahun yang akhirnya mencapai titik kritis.

banner 336x280

Diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif itu membahas bagaimana pelemahan rupiah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga. Harga bahan pokok seperti beras naik 12 persen, minyak goreng naik 18 persen, sementara produk berbahan gandum impor seperti roti dan mi naik hingga 25 persen. Harga BBM turut naik 15 persen dan tarif angkutan umum naik 10 persen.

Lince menjelaskan, untuk keluarga dengan pengeluaran bulanan Rp5 juta, kenaikan harga secara gabungan bisa menambah beban hingga Rp500.000 sampai Rp800.000 per bulan. Artinya, uang yang sama kini membeli lebih sedikit kebutuhan pokok, transportasi, obat, dan perlengkapan sekolah.

“Ekonomi yang kuat bukan dibangun dari angka-angka di laporan bank sentral, tetapi dari jutaan keputusan kecil yang dibuat oleh masyarakat setiap hari apa yang mereka beli, apa yang mereka tabung, dan apa yang mereka pilih untuk didukung,” tegas Lince dalam paparannya.

Narasumber juga menyoroti kelompok yang paling terdampak, yakni rumah tangga berpendapatan rendah yang menghabiskan 60 hingga 70 persen penghasilan mereka hanya untuk makanan. Selain itu, pelaku UMKM yang bergantung pada bahan baku impor turut merasakan tekanan berat karena margin keuntungan kian tergerus, sementara mahasiswa dan anak muda menghadapi biaya hidup yang makin tinggi di tengah sempitnya lapangan kerja.

Pelemahan rupiah sendiri disebabkan oleh tekanan ganda. Dari sisi global, kenaikan suku bunga Federal Reserve AS membuat dolar lebih menarik sehingga investor menarik dananya dari negara berkembang termasuk Indonesia. Dari sisi domestik, defisit neraca berjalan dan arus modal keluar yang lebih besar dari arus masuk memperparah tekanan pada nilai tukar.

Menutup diskusi, Lince mendorong generasi muda untuk tidak berdiam diri. la mengajak peserta membangun ketahanan finansial pribadi, mendukung produk dan bisnis lokal, terlibat aktif dalam advokasi kebijakan ekonomi, serta erta merintis usaha usaha berbasis sumber daya lokal demi mengurangi ketergantungan pada impor.

Kegiatan yang dimoderatori oleh *Paulinus Mersiwince Gulo* selaku *Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Pematangsiantar* berlangsung dinamis dan penuh antusias. Paulinus berhasil memandu jalannya diskusi dengan mendorong peserta untuk tidak hanya memahami persoalan secara teori, tetapi juga merefleksikannya dalam kehidupan nyata di lingkungan sekitar mereka.

Diskusi ekonomi ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran bersama bahwa isu ekonomi makro bukan hanya urusan pemerintah dan pakar, melainkan menyentuh langsung kehidupan nyata setiap warga.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *