Proyek Strategis Nasional (PSN) Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, resmi memasuki tahap konstruksi fisik.

KomenNews.id // Lermatang, Tanimbar – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memimpin langsung prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek raksasa senilai US$20,95 miliar atau setara Rp390 triliun ini pada Kamis (16/7/2026), di Lermatang, Tanimbar. Peresmian ini turut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Dalam pidatonya, Bahlil menegaskan bahwa momen ini merupakan akhir dari penantian panjang selama 28 tahun. Proyek ini sempat terkatung-katung melewati masa kepemimpinan enam Presiden RI akibat perdebatan panjang mengenai lokasi fasilitas pengolahan.
“Atas arahan tegas Presiden Prabowo Subianto untuk mengeksekusi cepat seluruh proyek migas yang sudah memiliki Plan of Development (POD), hari ini kita buktikan sejarah baru energi Indonesia dimulai dari Tanimbar,” ujar Bahlil dalam sambutannya.
Alokasi Gas: 60 Persen untuk Domestik dan Hilirisasi
Bahlil memaparkan bahwa proyek ini ditargetkan mampu menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, menyalurkan gas pipa domestik sebesar 120 hingga 150 MMSCFD*, serta memproduksi 35.000 barel kondensat per hari.
Demi mendukung program hilirisasi nasional, pemerintah menetapkan kebijakan ketat terkait alokasi output gas dari Blok Masela:
* 60% untuk Domestik: Pasokan gas akan diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Gas ini nantinya akan diserap oleh PT Pupuk Indonesia untuk membangun industri hilirisasi (pabrik pupuk) di wilayah sekitar, serta diserahkan kepada PLN, PGN, dan kemitraan swasta.
* 40% untuk Ekspor: Sisa produksi maksimal 40% akan alokasikan untuk kebutuhan pasar global guna mendatangkan devisa bagi negara.
Pasca- groundbreaking ini, pengerjaan fisik di lapangan akan langsung dikebut, meliputi penyiapan 11 sumur pengembangan dan pembangunan fasilitas darat seperti pelabuhan serta dermaga. Gas dari Proyek Abadi Masela ini ditargetkan resmi mulai mengalir (onstream) pada tahun 2029.
Wanti-wanti Hak Tanah Masyarakat Selesai Tuntas
Di depan forum resmi tersebut, Menteri ESDM juga memberikan peringatan keras kepada pihak operator dan pengawas proyek mengenai aspek sosial. Bahlil menegaskan agar Inpex Corporation selaku operator utama dan SKK Migas segera menuntaskan seluruh hak-hak masyarakat lokal, khususnya terkait dengan pembebasan lahan atau tanah adat yang terdampak.
“Saya minta dengan tegas kepada Inpex dan SKK Migas, urusan hak-hak masyarakat soal tanah harus diselesaikan dengan adil dan tuntas. Jangan sampai ada hak rakyat yang terabaikan atau menimbulkan konflik sosial ke depan. Proyek ini harus membawa kesejahteraan bersama,” pungkas Bahlil.
Dihadiri Pejabat Negara secara Fisik dan Virtual
Acara peresmian monumental ini digelar dengan kombinasi kehadiran fisik di lokasi penandatanganan dan kehadiran virtual dari Istana Merdeka, Jakarta.
Berdasarkan pantauan, sejumlah pejabat tinggi negara yang hadir secara virtual dari Istana Merdeka di antaranya:
* Prabowo Subianto (Presiden Republik Indonesia)
* Sugiono (Menteri Luar Negeri)
* Prasetyo Hadi (Menteri Sekretaris Negara)
* Teddy Indra Wijaya (Sekretaris Kabinet)
* Yuliot Tanjung (Wakil Menteri ESDM)
Sementara itu, jajaran pejabat dan pimpinan yang hadir secara langsung di Lermatang, Kepulauan Tanimbar meliputi:
* Bahlil Lahadalia (Menteri ESDM)
* Rahman Pambudi (Menteri PPN/ Kepala Bappenas)
* Nusron Wahid (Menteri ATR/Kepala BPN)
* Dudung Abdurachman (Kepala Kantor Staf Presiden/KSP)
* Takayuki Ueda (CEO INPEX Corporation)
* Hendrik Lewerissa (Gubernur Maluku) bersama Forkopimda dan Pimpinan BUMD



















