Ketua Umum Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), Umar Ohoitenan (yang akrab disapa Bang Umar Kei), menyampaikan kritik keras sekaligus refleksi mendalam mengenai peran organisasi kepemudaan (OKP) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di ibu kota.
KomenNews.id // Jakarta – Ia menegaskan bahwa organisasi paguyuban jangan hanya sekadar menjadi papan nama atau terjebak dalam ruang diskusi tanpa hasil konkret. Sebaliknya, organisasi harus menjadi mesin eksekusi yang menyentuh langsung urusan perut dan kesejahteraan anggotanya.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Umar Ohoitenan di sela-sela acara Pengukuhan Pengurus Paguyuban Rumahitu Jakarta yang berlangsung khidmat di Ballroom Yos Sudarso, Kantor Walikota Administrasi Jakarta Utara, Minggu (05/07/2026).
Di hadapan ratusan tokoh adat, pemuda, dan perwakilan ormas kedaerahan yang memadati ruangan, Umar menyoroti fenomena banyaknya organisasi yang kehilangan taring pasca-dibentuk. Menurutnya, sebuah perkumpulan dinilai bukan dari seberapa sering mereka berdiskusi di dalam ruangan, melainkan dari apa yang mereka perbuat di tengah masyarakat.
“Harapan saya tidak banyak. Saya minta jangan sampai organisasi paguyuban di Jakarta ini hanya bunyi namanya saja dan hanya berdiskusi di dalam rumah. Kita ini orang apa? Kita ini orang eksekusi! Baru kita tahu ada kekurangan dan kesalahan itu di saat kita sudah melakukannya di lapangan. Berbicara belum tentu benar, tapi kalau kita melakukan sesuatu yang konkret ke orang lain, maka itu adalah nyata,” ujar Umar dengan nada bertenaga.
Mandiri Lewat 7 Badan Usaha: Solusi Sektor Riil
Umar kemudian berbagi refleksi mengenai perjalanan FPMM yang didirikannya bersama rekan-rekan belasan tahun lalu. Berawal dari gerakan spiritual dan sosial berskala kecil menjelang bulan Maulid, organisasi tersebut kini bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang mandiri.
Saat ini, organisasi tersebut telah berhasil membangun 7 badan usaha yang beroperasi aktif di wilayah DKI Jakarta. Unit usaha ini sengaja dibentuk untuk menjawab tantangan pengangguran yang kerap menjebak para pemuda rantau, termasuk mereka yang sudah menyandang gelar sarjana.
“Hasil dari pergerakan awal itu, hari ini kita buka badan usaha. Ada tujuh badan usaha di DKI Jakarta. Walaupun mereka sarjana, kalau mengharapkan kue yang besar tapi kenyataannya tidak ada, akhir bulan mereka pusing bayar kontrakan, anak istri belum makan minum. Alhamdulillah, hari ini tenaga kerja kita di DKI, walaupun di sektor lapangan seperti perparkiran, ada sekitar 400 orang yang terserap. Dari tingkat ketua wilayah sampai ke bawah, semua digerakkan lewat badan usaha,” jelasnya terperinci.
Selain penguatan ekonomi mandiri, Umar menambahkan bahwa program beasiswa pendidikan juga terus berjalan sebagai komitmen jangka panjang ormas untuk mencetak generasi muda Maluku dan warga lokal Tanah Betawi yang berdaya saing tinggi.
Soroti Konflik di Kampung Halaman, Dorong Rekonsiliasi
Tidak hanya bicara soal ekonomi Jakarta, tokoh pemuda Maluku ini juga memanfaatkan momentum pengukuhan tersebut untuk menyentil kepekaan sosial pengurus ormas, terutama terkait konflik sosial yang belakangan terjadi di wilayah asal mereka (Maluku).
Ia menyayangkan lambatnya respons dari jajaran pengurus sektoral maupun aparat dalam meredam pertikaian antar-warga yang bahkan melibatkan sesama saudara. Mengambil inisiatif sendiri, Umar mengaku beberapa waktu lalu telah mengundang dua Raja (pemimpin adat) untuk duduk bersama di satu meja demi mencari jalan damai secara langsung.
“Organisasi ini dibentuk untuk apa? Hanya saling menonton? Organisasi harus bergerak. Pusar kultur hidup kita ada di sana. Harusnya tokoh adat, tokoh pemuda, turun dan pikirkan sesuatu. Damaikan mereka. Banyak uang pun tidak ada artinya kalau kita tidak menyatu hati dan tidak saling menyayangi,” tegas Umar.
Sebagai langkah konkret dan instan pasca-pengukuhan ini, Umar langsung menginstruksikan Ketua FPMM DKI Jakarta dan jajaran Wakil Ketua FPMM Jakarta Utara untuk segera turun ke lapangan guna mendata kerugian fisik akibat konflik kemanusiaan tersebut.
“Tadi malam saya sudah minta, coba hitung berapa bangunan yang rusak atau terbakar. Kita buatkan program bantuan, kita bantu perbaikan masjid dan fasilitas warga bersama-sama. Kalau kita bikin gerakan kemanusiaan seperti ini, satu-satunya jalan, pasti semua orang akan datang, bersimpati, dan kembali bersatu,” pungkasnya optimis.
Acara pengukuhan Pengurus Paguyuban Rumahitu Jakarta ini pun ditutup dengan komitmen dan ajakan dari Bang Umar Kei, agar bersama dari berbagai elemen ormas untuk meningkatkan sinergi antarpaguyuban di Jakarta.
Saya membuka pintu komunikasi 24 jam bagi warga yang membutuhkan, serta menaruh fokus penuh pada program kerja berbasis aksi nyata,” ajaknya dalam penutup sambutan.
