Selama puluhan tahun, deru ombak di Laut Arafura menyimpan janji manis tentang sebuah harta karun yang terkubur di kedalaman buminya: Blok Masela. Bagi masyarakat Maluku, proyek Abadi LNG bukan sekadar angka-angka investasi raksasa di atas kertas menteri, melainkan sebuah asa tentang hilangnya kemiskinan dan lahirnya era baru kesejahteraan.
KomenNews.id // Ambon – Namun, di balik optimisme itu, terselip sebuah kekhawatiran klasik yang menghantui para pengusaha lokal. Apakah mereka akan menjadi aktor utama, atau kembali terasing dan sekadar menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri?
Menjawab tantangan besar tersebut, PT Maluku Energi Abadi (MEA) mengambil langkah berani. Perusahaan daerah ini berkomitmen penuh pasang badan menjadi jembatan bagi para pengusaha lokal agar bisa menembus ketatnya standar industri hulu migas internasional di Blok Masela.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama PT MEA sekaligus Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Maluku, Muhamad Armyn Syarif Latuconsina, usai menghadiri Focus Group Discussion (FGD) krusial di Swiss-Belhotel Ambon, Kamis (11/6/2026). Diskusi bertajuk “Pengembangan Ekosistem Rantai Pasok Berbasis Peningkatan Kapasitas Penyedia Barang dan Jasa untuk Menunjang Proyek Abadi LNG” yang diinisiasi oleh Universitas Pattimura (Unpatti) dan Inpex ini menjadi cermin retak yang harus segera diperbaiki.
Menatap Realita, Menolak Menyerah
Hasil kajian akademis Unpatti dan Inpex secara jujur memotret bahwa kesiapan pengusaha lokal di Maluku masih harus merangkak naik untuk menyamai standar global. Namun, bagi Latuconsina, potret tersebut bukanlah sebuah vonis mati, melainkan sebuah peluit tanda mulai berbenah.
“Kami melihat hasil kajian ini sebagai gambaran nyata agar kita tahu persis apa yang harus diperbaiki. Tidak ada kata menyerah,” ujar Latuconsina dengan nada optimis.
Sebagai motor penggerak, PT MEA akan bergerak lincah melakukan tiga langkah taktis:
-
Inventarisasi Potensi: Mendata seluruh pengusaha lokal yang memiliki potensi bergerak di sektor rantai pasok.
-
Pemetaan Kebutuhan: Mengupas tuntas apa saja yang dibutuhkan oleh proyek Abadi LNG.
-
Fasilitasi Standarisasi: Menjembatani pengusaha lokal lewat pelatihan dan sertifikasi agar produk serta jasa mereka lolos kualifikasi ketat Inpex dan SKK Migas.
“Kami ingin memastikan tidak ada satu pun peluang emas yang terlewatkan oleh anak daerah,” tegas Latuconsina.
Rebutan “Kue” Rp90 Triliun
Alasan di balik kegigihan ini bukanlah omong kosong. Ada perputaran uang yang luar biasa masif. Dari total nilai megaproyek Blok Masela, sekitar 26,6 persen dialokasikan khusus untuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) alias konten nasional.
Angka 26,6 persen itu setara dengan Rp90 triliun. Sebuah angka yang sangat fantastis, yang diproyeksikan akan mengalir selama 3 hingga 4 tahun masa konstruksi (pelaksanaan) proyek.
“Nilai sebesar Rp90 triliun ini harus memberi manfaat nyata. Uangnya harus berputar di Maluku, diserap oleh tenaga kerja lokal, bahan baku lokal, dan jasa-jasa asal Maluku. Ini demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat kita,” papar Latuconsina.
Menembus Birokrasi, Menyiapkan Payung Hukum
Langkah ekonomi ini dipastikan tidak akan berjalan pincang tanpa restu politik dan hukum. Latuconsina bergerak cepat membawa blueprint local integrator ini ke ranah pemerintahan. Kabar baiknya, usulan ini telah mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari DPRD serta Pemerintah Provinsi Maluku.
“Selanjutnya, kami sedang menyiapkan payung hukumnya agar aturan mainnya jelas, transparan, dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat,” jelasnya lebih lanjut.
Di sisi lain, lewat bendera Kadin Maluku, kolaborasi lintas sektor akan terus digenjot. Diskusi berkala, workshop, dan pelatihan intensif akan digelar dengan melibatkan para peneliti, asosiasi usaha, hingga instansi vertikal terkait. Bahkan, Kadin bersiap membuka keran kerja sama atau joint venture antara pengusaha lokal dengan perusahaan-perusahaan nasional yang sudah berpengalaman di dunia migas.
Asa dari Bumi Raja-Raja
Masa depan Maluku di Blok Masela kini sedang dipertaruhkan. Perjalanan menembus rantai pasok global memang terjal, namun dengan sinergi antara korporasi daerah, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha, asa itu perlahan mulai menemukan bentuknya.
“Kami tidak hanya duduk diam dan berharap keajaiban, tapi kami berusaha membuka jalan. Kita tidak mau menjadi penonton di negeri sendiri. Dengan persiapan yang matang dan dukungan kolektif seluruh masyarakat Maluku, saya yakin pengusaha lokal kita bisa ambil bagian dan merasakan langsung kemakmuran dari proyek kebanggaan ini,” pungkas Latuconsina menutup perbincangan.



















