MBG di Persimpangan: Kritik Melonjak, Penghentian Dinilai Berisiko Bagi Anak Rentan

banner 468x60

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah berada di titik krusial. Di satu sisi, program ini menuai kritik tajam akibat sejumlah persoalan di lapangan. Namun di sisi lain, penghentian program dinilai berisiko besar bagi jutaan anak dari keluarga kurang mampu yang bergantung pada asupan harian tersebut.

 

banner 336x280

KomenNews.id // Jakarta – Sorotan terhadap MBG meningkat setelah munculnya kasus keracunan makanan, menu yang dinilai tidak layak, hingga keterlambatan distribusi terutama di wilayah terpencil. Sepanjang tahun 2025, tercatat puluhan ribu anak terdampak dugaan keracunan makanan yang dikaitkan dengan pelaksanaan program ini. Selain itu, komposisi menu yang masih didominasi makanan olahan dinilai belum memenuhi standar gizi ideal bagi tumbuh kembang anak.

Meski demikian, urgensi keberadaan program ini tidak bisa diabaikan. Data tahun 2023 menunjukkan angka stunting di Indonesia masih berada di atas 20 persen, atau sekitar 1 dari 5 anak mengalami gangguan pertumbuhan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak permanen terhadap perkembangan otak dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Dampak positif program juga mulai dirasakan di sejumlah daerah. Di Grobogan, Jawa Tengah, misalnya, para guru melaporkan adanya perubahan signifikan pada siswa. Anak-anak yang sebelumnya datang ke sekolah tanpa sarapan kini terlihat lebih fokus dan aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar setelah MBG berjalan.

Ketua Komite SMAN 12 Jakarta, Andriono Basuki Putro, menegaskan bahwa program ini tidak seharusnya dihentikan. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah evaluasi menyeluruh, khususnya pada aspek kualitas makanan serta pengawasan distribusi di lapangan.

“Program ini menyasar puluhan juta penerima dengan melibatkan ribuan dapur umum. Jika dihentikan secara total, justru berpotensi merugikan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang sangat bergantung pada program ini,” ujarnya.

Dengan berbagai dinamika yang terjadi, MBG kini berada di persimpangan antara kritik dan kebutuhan. Perbaikan sistem, peningkatan standar mutu, serta pengawasan ketat menjadi kunci agar program ini dapat terus berjalan sekaligus memberikan manfaat optimal bagi generasi masa depan Indonesia.

 

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *