Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk mewaspadai berbagai indikator yang dapat memicu krisis ekonomi nasional. Menurutnya, pengalaman sejarah Indonesia menunjukkan bahwa gejolak ekonomi yang tidak tertangani dengan baik kerap berujung pada instabilitas sosial dan politik.
KomenNews.Id||Jakarta – Pandangan tersebut disampaikan Jusuf Kalla saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Publik Hybrid bertajuk “Kebijakan Ekonomi dan Manajemen Krisis” yang diselenggarakan Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina di Ruang Granada, Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina Cipayung, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan akademik tersebut dibuka oleh Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina, Prof. Dr. Ahmad Badawi Saluy, dan dipandu langsung oleh Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini.
Dalam paparannya, Jusuf Kalla menegaskan bahwa sejarah politik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi. Menurutnya, sejumlah pergantian kepemimpinan nasional pada masa lalu dipicu oleh tekanan ekonomi yang berkembang menjadi krisis kepercayaan publik.
“Sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi sering berujung pada krisis politik. Ketika harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat turun, dan kepercayaan publik melemah, maka gejolak sosial akan mudah muncul,” ujar Jusuf Kalla.
Salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian serius, kata JK, adalah stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, kekuatan mata uang nasional sangat bergantung pada tingkat kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Ia menjelaskan, ketika masyarakat lebih memilih menyimpan mata uang asing dibanding rupiah, maka tekanan terhadap nilai tukar akan semakin besar. Karena itu, menjaga kepercayaan publik menjadi faktor penting dalam mempertahankan stabilitas ekonomi nasional.
Selain nilai tukar, Jusuf Kalla mengingatkan agar pemerintah tidak hanya melihat indikator ekonomi dari ramainya pusat perbelanjaan atau aktivitas konsumsi di perkotaan. Menurutnya, kondisi ekonomi yang sebenarnya harus diukur dari daya beli masyarakat di sektor riil serta pergerakan investasi di pasar modal.
“Pasar modal dan pasar riil merupakan dua indikator penting. Jangan hanya melihat mal yang ramai, karena belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi yang sehat. Yang harus dilihat adalah apakah masyarakat memiliki kemampuan belanja yang kuat dan apakah investor masih percaya terhadap prospek ekonomi,” katanya.
JK juga menyoroti melemahnya pasar modal yang menurutnya menjadi sinyal menurunnya tingkat kepercayaan investor. Dalam dunia investasi, kepercayaan merupakan faktor utama yang menentukan keputusan seseorang untuk menanamkan modal.
Menurutnya, ketika prospek keuntungan dinilai menurun, investor akan cenderung menarik dananya sehingga berdampak pada pelemahan harga saham di berbagai sektor, termasuk sektor perbankan dan pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Lebih jauh, Jusuf Kalla mengingatkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi memicu berbagai persoalan sosial. Meningkatnya angka pengangguran dan kesulitan ekonomi masyarakat dapat menjadi pemicu meningkatnya kriminalitas dan gangguan ketertiban sosial.
“Ekonomi dan kondisi sosial memiliki hubungan yang sangat erat. Ketika masyarakat mengalami tekanan ekonomi, berbagai persoalan sosial biasanya ikut meningkat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya kontribusi perguruan tinggi dalam membantu pemerintah mencari solusi atas berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi bangsa. Menurutnya, kampus harus menjadi pusat lahirnya gagasan, riset, dan rekomendasi kebijakan yang mampu menjawab persoalan masyarakat secara nyata.
Di sektor fiskal, JK menilai pemerintah perlu segera melakukan langkah efisiensi anggaran dengan memangkas berbagai pengeluaran yang tidak produktif. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kesehatan fiskal negara di tengah meningkatnya berbagai tantangan ekonomi global.
Ia juga mengingatkan adanya ancaman El Nino yang berpotensi menekan produksi pangan nasional dan meningkatkan kebutuhan impor. Selain itu, sektor energi juga perlu mendapat perhatian serius mengingat kebutuhan listrik nasional terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi.
Menutup paparannya, Jusuf Kalla menyebut terdapat tiga faktor utama yang saat ini memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia, yakni dampak konflik geopolitik global,
tingginya beban utang negara, serta perlunya manajemen krisis yang efektif melalui pengendalian defisit dan efisiensi belanja negara.
“Manajemen krisis harus dilakukan secara disiplin melalui pengendalian defisit, pengurangan utang, serta memangkas pengeluaran yang tidak produktif. Dengan langkah itu, ekonomi nasional akan lebih sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya.



















