Hasilkan Ratusan Miliar Tapi Menantang Maut: Warga Tagih Janji Pembangunan Jembatan Cindur Mahato yang Tak Kunjung Terealisasi

banner 468x60

Memasuki akhir Mei 2026, ketidakpastian masih menggelayuti warga di perbatasan Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Sumatera Utara) dan Rokan Hulu (Riau). Jembatan darurat Cindur Mahato yang menjadi urat nadi penghubung utama antarprovinsi tersebut, hingga kini kondisinya kian memprihatinkan tanpa ada tanda-tanda realisasi pembangunan permanen.

 

banner 336x280

KomenNews.id // Labuhanbatu Selatan – Padahal, janji manis perbaikan sempat diembuskan oleh pihak terkait pada awal tahun ini. Warga menilai, janji tersebut sengaja dilemparkan hanya untuk meredam amarah dan keresahan masyarakat yang setiap hari harus bertaruh nyawa saat melintas.

 

Janji Bulan Mei yang Menguap

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pada Februari 2026 lalu, sejumlah personel dari Kodam sudah turun ke lokasi untuk melakukan pengukuran. Kepada masyarakat dan awak media yang meliput, pihak aparat saat itu menyatakan bahwa pembangunan jembatan akan segera dieksekusi pada bulan Mei 2026 melalui skema pengerjaan oleh satuan Kodam Tambusai.

Namun, hingga minggu terakhir Mei 2026, lokasi jembatan terpantau sepi dari aktivitas pengerjaan fisik maupun alat berat. Belum ada material bangunan yang diturunkan ke lokasi.

 

“Kenapa awak media dan masyarakat hanya diberikan janji untuk menenangkan situasi saja? Sampai saat ini tidak ada realisasi. Ini hanya membuat masyarakat kembali kehilangan kepercayaan atas iming-iming yang berulang,” ujar S. Damanik, salah seorang warga yang aktif menyuarakan keluhan tersebut.

 

Ironi Inkam Ratusan Miliar vs Keselamatan Warga

 

Kondisi ini memicu ironi mendalam. Jalur Cindur Mahato merupakan jalur logistik yang sangat padat. Setiap harinya, ratusan truk pengangkut komoditas produksi dan bus penumpang antarprovinsi berjejal melewati jembatan kayu darurat yang mulai rapuh tersebut.

Secara kalkulasi ekonomi, mobilitas kendaraan produksi di jalur ini diperkirakan menyumbang pendapatan (inkam) hingga ratusan miliar rupiah bagi kas pemerintah. Sayangnya, kontribusi ekonomi yang masif ini tidak berbanding lurus dengan kelayakan infrastruktur yang diberikan kepada masyarakat.

Saat ini, warga hanya bisa pasrah seraya terus berdoa agar tidak ada korban jiwa akibat ambrolnya jembatan darurat tersebut. Perasaan waswas selalu menghantui setiap pengendara, terutama saat kendaraan bermuatan berat melintas di atas papan-papan jembatan yang berderit.

Masyarakat mendesak pihak pemerintah terkait dan instansi penanggung jawab untuk segera membuka mata hati melihat penderitaan warga di lapangan. Percepatan pelaksanaan proyek bukan lagi sekadar tuntutan fasilitas, melainkan kebutuhan mendesak demi menyelamatkan nyawa manusia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *