Atmosfer lapangan Merdeka, Kota Ambon, mendadak bergemuruh pada Minggu subuh (21/6/2026) Waktu Indonesia Timur. Ribuan pencinta sepak bola di bumi raja-raja tumpah ruah demi menyaksikan laga sengit antara Tim Nasional Belanda dalam lanjutan Piala Dunia 2026.
KomenNews.id // Ambon – Namun, ada yang berbeda dari gelaran nonton bareng (nobar) kali ini. Di tengah lautan pendukung fanatik, tampak hadir Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur Watubun, Walikota Ambon Bodewin Wattimena dan jajaran, serta Tamu Kehormatan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen dan istri serta jajaran.
Kehadiran para pejabat tinggi dan diplomat asing ini menegaskan bahwa sepak bola di Maluku bukan lagi sekadar hiburan visual, melainkan telah bermutasi menjadi panggung diplomasi dan simbol rekonsiliasi sosial yang kuat.
Pantauan di lokasi sejak pukul 03.00 WIT menunjukkan antusiasme luar biasa dari masyarakat, didominasi oleh generasi muda yang mengenakan atribut khas tim kesayangan mereka. Kendati tensi pertandingan di layar raksasa berjalan tinggi, situasi di Lapangan Merdeka tetap berjalan kondusif, tertib, dan penuh kehangatan.
Menghapus Sekat Kampung Lewat Lapangan Hijau
Komitmen menjaga perdamaian ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari pihak legislatif. Ditemui usai laga, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur Watubun, melayangkan pujian tinggi sekaligus ajakan hangat yang ditujukan langsung kepada seluruh masyarakat Maluku, khususnya pemuda yang menjadi motor penggerak euforia di jalanan.
Menurut Benhur, tertibnya perhelatan nobar yang dilanjutkan dengan konvoi tertib di berbagai sudut Kota Ambon dan daerah lain di Maluku menjadi bukti sahih bahwa masyarakat Maluku sebetulnya memiliki kedewasaan sosial yang sangat tinggi.
“Piala Dunia 2026 ini adalah bukti nyata bahwa katong semua bisa baku kele dan saling menghormati di tengah perbedaan yang sangat tajam sekalipun,” ujar Benhur Watubun dengan nada optimistis, Minggu (21/06/2026), usai nobar Belanda vs Swedia di Lapangan Merdeka Ambon.
Ketua DPD PDI Perjuangan Maluku ini juga memberikan sebuah refleksi mendalam. Ia mengingatkan bahwa jika untuk urusan mendukung negara luar saja masyarakat Maluku bisa luar biasa kompak menjaga keamanan, maka energi positif dan kekompakan serupa harus dilipatgandakan untuk urusan membangun daerah sendiri.
“Saya mengajak seluruh anak muda, tokoh masyarakat, dan komunitas pencinta bola di Maluku: mari kita bawa atmosfer positif ini keluar dari area nobar. Jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk menyudahi segala ego kelompok atau sekat-sekat kampung. Keamanan yang kita jaga hari ini adalah investasi terbaik untuk masa depan anak cucu kita,” tegas Ketua DPRD Maluku tersebut.
Investasi Masa Depan dan Pesan untuk Generasi Muda
Watubun katakan lagi, kehadiran Duta Besar Belanda di Lapangan Merdeka Ambon subuh itu juga menjadi sinyalemen positif bahwa mata dunia sedang tertuju pada bagaimana Maluku merayakan perbedaan. Sentimen historis dan kultural yang kuat antara Maluku dan Belanda terbalut rapi dalam semangat Pela Gandong modern melalui media sepak bola.
Selain itu dirinya menilai, pihak kepolisian setempat dibantu tokoh pemuda setempat dilaporkan terus bersiaga mengawal arus lalu lintas pasca-pertandingan guna memastikan euforia kemenangan ataupun kekecewaan dari hasil laga tidak merembet menjadi gesekan fisik.
” Dengan suksesnya pengamanan dan tingginya kesadaran warga pada subuh ini, Maluku kembali mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa dari Timur Indonesia, kedewasaan berdemokrasi dan kedamaian sosial bisa dirawat, bahkan dari sebuah tontonan sepak bola subuh hari ini,” ujarnya.




















