Dies Natalis PMKRI Santo Thomas Aquinas Ke-79, PMKRI Pematangsiantar gelar baksos dan refleksi kemanusiaan 

banner 468x60

 Memperingati Dies Natalis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang ke-79, PMKRI Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi menggelar aksi nyata yang sarat akan kritik sosial. Alih-alih merayakannya dengan seremonial mewah, organisasi kepemudaan ini memilih turun langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Pinggir untuk melakukan bakti sosial di Rumah Belajar anak-anak pemulung, sebelum akhirnya melanjutkan refleksi ideologis pada Malam Fraternitas di Margasiswa Taktis PMKRI Pematangsiantar.

 

banner 336x280

KomenNews.id // Pematang Siantar – Aksi kemanusiaan yang berlangsung khidmat sekaligus berapi-api ini diikuti oleh pengurus cabang, anggota PMKRI, serta berkolaborasi dengan para Frater dan Suster. Mereka membagikan bantuan logistik dan terlibat langsung dalam proses belajar mengajar bersama anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan pembuangan sampah tersebut.

Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi, Fransisco Mezgion Hutauruk , menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kritik kerasnya terhadap Pemerintah Kota Pematangsiantar. Menurutnya, kondisi lingkungan dan akses pendidikan yang dialami anak-anak di sekitar TPA Tanjung Pinggir merupakan potret nyata kegagalan negara dalam menjamin hak hidup layak dan pendidikan yang sehat bagi generasi penerus.

“Sangat ironis dan menyakitkan melihat anak-anak kita harus mengejar mimpi di tengah kepulan asap pembakaran sampah dan bau menyengat yang mengancam kesehatan mereka. Di mana pemerintah saat anak-anak ini harus menghirup racun setiap hari demi bisa mengecap bangku pendidikan alternatif? Kami menuntut kehadiran nyata pemerintah, bukan sekadar janji politik saat pemilu!” tegas Fransisco dengan nada tajam di lokasi baksos, Rabu (27/05/2026).

Ia menambahkan bahwa Rumah Belajar yang diinisiasi oleh para rohaniwan ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi dinas terkait. Meskipun anak-anak di lingkungan ini hidup di tengah berbagai persoalan sosial dan keterbatasan pendidikan, harapan itu belum hilang. Kehadiran para frater dan suster yang mengontrak rumah khusus sebagai tempat belajar menjadi tanda nyata cinta kasih, pelayanan, dan perjuangan kemanusiaan yang sejalan dengan semangat PMKRI untuk menghadirkan perubahan melalui pendidikan dan solidaritas.

Tidak berhenti pada kritik kepada pemangku kebijakan, PMKRI Pematangsiantar juga mengetuk kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat Kota Pematangsiantar. Fransisco menyerukan himbauan darurat agar warga mulai secara aktif mengurangi produksi limbah rumah tangga sehari-hari, terutama sampah plastik sekali pakai yang sulit terurai dan menumpuk di TPA Tanjung Pinggir.

“Pemerintah wajib bertanggung jawab, namun kita sebagai masyarakat juga tidak boleh menutup mata. Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh warga Pematangsiantar untuk mulai menekan penggunaan plastik sekali pakai. Sampah yang kita buang tanpa tanggung jawab hari ini akan menjadi racun yang dihirup oleh anak-anak di sekitar TPA ini esok hari. Mari kita jaga bumi ini dari lingkungan terkecil kita,” tambahnya.

Setelah menuntaskan aksi lapangan di TPA Tanjung Pinggir, rangkaian kegiatan berlanjut ke Margasiswa Taktis PMKRI Cabang Pematangsiantar untuk menyelenggarakan Malam Fraternitas. Acara diawali dengan Sidang Kehormatan dalam rangka Dies Natalis PMKRI ke-79, dilanjutkan dengan makan malam bersama sebagai wujud rasa syukur dan persaudaraan.

Puncak Malam Fraternitas diisi dengan diskusi interaktif membedah tema nasional yang diusung oleh Pengurus Pusat PMKRI: “Dari Viralitas ke Veritas: Meneguhkan Riset, Kepakaran, dan Kemanusiaan.”

Dalam pemaparannya selaku pemantik diskusi, *Fransisco Mezgion Hutauruk* menjabarkan makna mendalam di balik tema tersebut kepada seluruh kader yang hadir. Ia mengingatkan bahwa di era digital saat ini, PMKRI tidak boleh terjebak dalam arus “viralitas” yang dangkal, melainkan harus tetap berdiri kokoh pada jalur “veritas” (kebenaran).

“Sebagai organisasi pembinaan dan perjuangan, kader PMKRI Cabang Pematangsiantar harus bergerak tegak lurus dengan Visi dan Misi perhimpunan. Kita dituntut peka dalam memilah dan menyaring informasi di tengah banjir hoaks media sosial. Media sosial harus kita kuasai sebagai alat perjuangan yang positif, bukan tempat mencari popularitas kosong,” jelas Fransisco. Ia juga menekankan pentingnya riset, keilmuan, dan peningkatan kepakaran individu sebagai bekal menghadapi tantangan zaman serta didedikasikan sepenuhnya untuk kemanusiaan (pro ecclesia et patria).

Semangat pergerakan dalam Malam Fraternitas ini semakin berkobar dengan hadirnya tokoh senior PMKRI Cabang Pematangsiantar, Kakanda Daud Hutagalung. Dalam kesempatan tersebut, Daud memberikan motivasi dan wejangan taktis yang membakar semangat para kader, khususnya angkatan muda yang menjadi ujung tombak perhimpunan.

Daud menegaskan bahwa kader PMKRI tidak boleh menjadi penonton pasif di tengah dinamika sosial yang sedang bergejolak. Ia menuntut kepekaan yang lebih tinggi dari segenap anggota aktif terhadap realitas di sekeliling mereka.

“Kader-kader muda PMKRI harus tampil lebih aktif dan peka terhadap kondisi sekitar. Kita tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan sosial seperti yang kita saksikan hari ini di TPA Tanjung Pinggir. Kepekaan sosial itulah napas perjuangan kita yang sesungguhnya. Teruslah mengasah diri, dekatkan diri dengan masyarakat, dan jadilah motor penggerak perubahan di masa yang akan datang!” tegas Daud Hutagalung dalam kata sambutannya yang disambut riuh tepuk tangan peserta.

Rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-79 ini ditutup dengan komitmen bersama seluruh kader PMKRI Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi untuk tetap konsisten menjadi penyambung lidah rakyat yang tertindas sekaligus wadah pencetak kader intelektual populis yang berpihak pada kebenaran.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *