BEM Unindra Ingatkan Mahasiswa Waspadai Provokasi Politik di Tengah Dinamika Nasional

Berita115 Dilihat

Jakarta – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) mengingatkan generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk tetap kritis namun waspada terhadap berbagai bentuk provokasi politik yang berpotensi memecah belah di tengah dinamika nasional yang kian kompleks.

Ketua BEM Unindra, Helmi Fahri, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan, namun juga rentan dimanfaatkan oleh kepentingan politik tertentu jika tidak dibekali kesadaran kritis.

> “Mahasiswa harus tetap menjadi kekuatan moral dan intelektual, bukan alat kepentingan politik praktis. Di tengah situasi yang dinamis, kita harus waspada terhadap narasi provokatif yang dapat mengarah pada perpecahan, bahkan tuduhan-tuduhan serius seperti makar.”

Ia menilai bahwa ruang digital saat ini menjadi salah satu medium utama penyebaran informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, literasi politik dan kemampuan analisis menjadi hal penting bagi generasi muda.

Menurutnya, sikap kritis tidak boleh dimatikan, namun harus tetap berlandaskan pada data, kajian ilmiah, serta etika demokrasi. Ia juga menolak adanya upaya pembungkaman terhadap gerakan mahasiswa dengan dalih stabilitas.

> “Kita menolak provokasi, tapi kita juga menolak pembungkaman. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Yang perlu dijaga adalah arah perjuangan mahasiswa tetap berpihak pada rakyat, bukan ditunggangi kepentingan tertentu.”

BEM Unindra juga mengajak seluruh mahasiswa untuk memperkuat ruang diskusi, kajian, dan konsolidasi sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap narasi yang menyesatkan.

Selain itu, mahasiswa didorong untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya, serta mengedepankan prinsip verifikasi sebelum menyebarkan informasi.

Menutup pernyataannya, Helmi menegaskan bahwa mahasiswa harus tetap berdiri di garis perjuangan rakyat, dengan sikap kritis yang bertanggung jawab.

> “Mahasiswa bukan alat kekuasaan, dan bukan pula alat chaos. Kita adalah penjaga akal sehat demokrasi.”