Riuh rendah suara trompet, kibaran bendera berbagai negara di sudut-sudut kota, hingga pawai tertib kendaraan bermotor kini tengah mewarnai malam-malam di Provinsi Maluku. Perhelatan akbar Piala Dunia 2026 tidak sekadar menjadi ajang tontonan olahraga bagi masyarakat Maluku, melainkan telah menjelma menjadi sebuah festival budaya dan sosial yang masif.
KomenNews.id // Manokwari – Melihat antusiasme yang luar biasa ini, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menangkap sebuah momentum berharga. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membiarkan indahnya kedamaian dan kebersamaan ini menguap begitu saja setelah peluit panjang final Piala Dunia dibunyikan. Orang nomor satu di Maluku ini menginginkan agar “euforia kedamaian” selama turnamen ini dirawat dan dijadikan motor penggerak perdamaian yang hakiki di Bumi Raja-Raja untuk seterusnya.
Dari Meja Makan Gubernur Hingga ke Jalanan Ambon
Dalam sebuah kesempatan di Ambon baru-baru ini, Gubernur Hendrik Lewerissa membagikan sebuah cerita reflektif yang hangat dari dalam rumah tangganya sendiri. Sebuah cerita yang merefleksikan bagaimana perbedaan seharusnya dirayakan, bukan dipertentangkan.
“Saya sendiri memfavoritkan tim Argentina, sementara istri saya memfavoritkan tim Brasil. Meskipun kami berbeda pilihan, rumah tangga kami tetap harmonis, penuh canda, dan saling dukung,” seloroh Hendrik disambut senyum hangat warga. “Kalau di dalam rumah tangga saja perbedaan itu bisa mendatangkan kegembiraan, mengapa tidak di tengah masyarakat?,” ungkap Gubernur, Minggu (21/06/2026).
Bagi masyarakat Maluku, sepak bola adalah “agama kedua”. Fanatisme terhadap tim-tim besar dunia seperti Belanda, Brasil, Argentina, atau Jerman sudah mengakar secara turun-temurun. Namun, yang luar biasa dari perhelatan tahun 2026 ini adalah kedewasaan para pendukungnya. Tidak ada gesekan berarti. Yang ada justru ruang-ruang publik, seperti Lapangan Merdeka Ambon, yang penuh sesak oleh ribuan orang dari berbagai latar belakang, duduk berdampingan demi menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga di layar raksasa.
Menjadikan Piala Dunia Sebagai Cetak Biru PELA GANDONG Modern
Gubernur menegaskan bahwa persaudaraan yang harmonis saat menonton bola ini harus menjadi role model atau cetak biru bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku ke depan. Ikatan adat Pela Gandong (sistem persaudaraan tradisional di Maluku antara negeri Islam dan Kristen) menemukan gaung modernnya di atas lapangan hijau.
Gubernur menyebutkan, Indikator Positif Selama Piala Dunia 2026, diantaranya ;
1. Solidaritas Lintas Kelompok : Warga beda kampung nonton bareng secara damai.
2. Kepatuhan Ketertiban Umum : Konvoi tetap menghargai pengguna jalan lain.
3. Geliat UMKM Lokal : Warung kopi dan penjual atribut panen omzet
Sedangkan, lebih lanjut Gubernur katakan, Dampak Jangka Panjang untuk Maluku, yakni ;
1. Modal Sosial Kuat : Memperkecil potensi konflik horizontal di masa depan.
2. Kultur Sadar Hukum : Meningkatnya rasa aman dan tertib di ruang publik
3. Pertumbuhan Ekonomi : Membuktikan Maluku aman untuk investasi dan pariwisata
Gubernur berharap, energi positif, tawa, dan pelukan hangat antarpendukung saat gol tercipta tidak lantas pudar saat piala diserahkan kepada sang juara dunia di benua Amerika sana.
“Fans boleh berbeda, bendera yang kita kibarkan di depan rumah boleh bermacam-macam. Tetapi ingat, di dalam dada kita, benderanya tetap Merah Putih, dan tanah air kita adalah Maluku yang damai. Mari kita jadikan Piala Dunia ini sebagai mesin waktu yang membawa kita pada kedamaian yang permanen. Saling mengejek antar fans itu biasa, jangan ambil dihati tetapi jadikan sebagai kegembiraan selama Piala Dunia berlangsung,” tegas Gubernur.
Tantangan Pasca-Turnamen: Merawat Komitmen Bersama
Pemerintah Provinsi Maluku bersama aparat keamanan, tokoh adat, dan tokoh agama kini terus memperkuat narasi damai ini. Ajakan Gubernur bukan sekadar pemanis retorika di media sosial, melainkan sebuah seruan strategis. Kedamaian yang stabil adalah kunci utama bagi kabinet Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath untuk membangun infrastruktur, memajukan pendidikan, dan mengentaskan kemiskinan di daerah kepulauan ini.
Jika selama satu bulan penuh masyarakat Maluku bisa membuktikan kepada Indonesia bahwa mereka mampu menjaga stabilitas keamanan di tengah fanatisme sepak bola yang tinggi, maka tidak ada alasan bagi Maluku untuk goyah oleh isu-isu kecil lainnya di masa depan.
Piala Dunia 2026 akan segera berakhir dan mencatat sejarah baru di panggung olahraga global. Namun bagi Maluku, turnamen ini diharapkan menjadi babak baru — sebuah sepak mula (kick-off) menuju era Maluku yang lebih bersatu, maju, dan damai selamanya.














