Semangat Pattimura 2026: Gubernur Maluku Kobarkan Api Perjuangan Melawan Kemiskinan

banner 468x60

Gemuruh tarian Cakalele dan denting sejarah kembali membakar semangat di tanah Saparua. Di bawah langit pagi yang khidmat, ribuan pasang mata menjadi saksi Peringatan Hari Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-209 yang digelar di Lapangan Merdeka Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (15/5/2026).

banner 336x280

KomenNews.id // Saparua,Maluku Tengah – Bukan sekadar upacara rutin, peringatan tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam bagi Bumi Raja-Raja.

Estafet Api: Dari Generasi ke Generasi

Prosesi penyalaan obor induk berlangsung dramatis. Api perjuangan tersebut berpindah tangan secara simbolis mulai dari Raja Negeri Saparua kepada Camat, diteruskan ke Bupati Maluku Tengah, hingga akhirnya diterima oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Saat Lewerissa menyulutkan api ke obor induk, suasana seketika hening—sebuah simbol kuat bahwa semangat Thomas Matulessy tidak pernah padam, meski dua abad telah berlalu.

Perang Masa Kini: Melawan Kebodohan dan Ketimpangan

Bertindak sebagai Upulatu (Pemimpin), Gubernur Hendrik Lewerissa menyampaikan amanat yang menggetarkan. Ia menegaskan bahwa musuh Maluku hari ini bukan lagi kolonialisme Belanda dengan senjata api, melainkan tantangan zaman yang lebih kompleks.

“Kita hadir di sini bukan sekadar mengenang 15 Mei 1817 atau membakar obor. Api Pattimura harus terus menyala di dada setiap anak Maluku!” tegas Lewerissa.

Ia merinci bahwa “perang” generasi sekarang adalah perjuangan melawan:

  • Kemiskinan dan kebodohan.

  • Ketimpangan pembangunan.

  • Ketertinggalan teknologi.

  • Ancaman terhadap persatuan bangsa.

 

Menuju Indonesia Emas 2045

Mengusung tema “Teladani Perjuangan Pattimura Wujudkan Maluku yang Gemilang Menuju Indonesia Emas 2045”, Lewerissa mengingatkan kembali pesan legendaris Kapitan Pattimura sebelum naik ke tiang gantungan di Benteng Victoria: “Pattimura-Pattimura muda akan bangkit!”

Bagi Gubernur, kebangkitan itu harus diwujudkan melalui penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) tanpa kehilangan jati diri. Ia berharap filosofi Pela Gandong dan semangat Siwalima tetap menjadi jangkar bagi anak muda Maluku di tengah arus modernisasi.

“Maluku tidak boleh menjadi penonton di negerinya sendiri. Kita harus tampil di garis depan pembangunan kawasan timur Indonesia,” pungkasnya dengan optimis.

Penghormatan Terakhir

Acara ditutup dengan prosesi peletakan karangan bunga di Tugu Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura. Keheningan cipta yang dilakukan para peserta menjadi bentuk penghormatan tertinggi bagi sang Kapitan yang telah memberikan segalanya demi harga diri tanah Maluku.

Peringatan ke-209 ini meninggalkan pesan kuat: Bahwa selama “Api Pattimura” masih menyala di hati sanubari rakyat, harapan untuk Maluku yang gemilang akan selalu ada.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *