Di balik deretan gedung pencakar langit Jakarta, sebuah harapan besar untuk masyarakat di pelosok Maluku sedang diperjuangkan. Senin pagi (11/05/2026), Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa (HL) melangkah ke kantor Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan satu misi kemanusiaan: memastikan ratusan keluarga yang kehilangan rumah akibat konflik, bisa kembali memiliki atap untuk bernaung.
KomenNews.id // Jakarta – Bagi warga di Desa Kariuw, Iha, Ohoi Danar, dan Masihulan, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol harga diri, keamanan, dan titik awal untuk merajut kembali persaudaraan yang sempat koyak.
Suara dari Hati: “Keadilan untuk Semua”
Dengan nada bicara yang tenang namun tegas, Gubernur HL memaparkan kondisi pilu di lapangan kepada Dirjen Perumahan Perdesaan, Riny Dyah Mawarty. Ia bercerita tentang bekas-bekas kerusakan yang masih menganga, tentang dinding yang runtuh, dan tentang kerinduan warga untuk hidup normal.
“Rumah-rumah di sana hancur sekali. Kalau fiskal daerah kami cukup, saya tidak akan menunggu lama untuk membangunnya. Tapi kondisi kami terbatas,” ungkap HL dengan jujur.
Baginya, perjuangan ke pusat bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan janji moral seorang pemimpin.
“Saya ingin adil. Semua warga saya, di mana pun mereka berada, berhak merasakan kehadiran negara,” tambahnya.
Membangun Kembali Peradaban
Gayung pun bersambut. Pihak kementerian tidak hanya membuka pintu untuk pembangunan rumah, tetapi juga fasilitas sosial yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Harapan baru muncul; nantinya tidak hanya rumah yang berdiri, tapi juga suara lonceng gereja, kumandang azan di musholla, dan tawa anak-anak di balai warga yang akan kembali terdengar.
Namun, perjuangan ini masih membutuhkan kerja sama. Dirjen Riny Dyah Mawarty mengingatkan bahwa validitas data by name by address di aplikasi SIBARU adalah kunci teknis agar mimpi warga ini segera terwujud di APBN 2027.
Menjemput Masa Depan yang Lebih Cerah
Total 475 unit rumah yang diusulkan (Kariuw 210, Iha 100, Ohoi Danar 87, dan Masihulan 78) adalah simbol dari 475 keluarga yang sedang menanti kepastian.
Melalui pertemuan di Kebon Sirih ini, Gubernur HL sedang mencoba menghapus sisa-sisa trauma konflik dengan semen dan batu bata pembangunan. Karena pada akhirnya, perdamaian yang abadi hanya bisa tumbuh di atas fondasi keadilan dan kesejahteraan yang merata.
Kini, bola ada di tangan administrasi. Jika semua lancar, tahun depan, tangis haru warga saat memasuki rumah baru akan menjadi upah terindah dari perjalanan jauh sang Gubernur ke ibu kota.
Pantauan media ini, Gubernur didampingi Saipul Patta yang menjabat Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta.
Sementara itu Dirjen didampingi ;
– Dr. Jani Arjanto, S.H., M.H. – Sekretaris Direktorat Jenderal Perumahan Perdesaan
– Yunianto Rahadi Utomo, S.T., M.M., QMRP – Direktur Penyiapan Lahan, Perizinan dan Penghunian Perumahan Perdesaan
– Mitha Hasti Suryani, S.T., M.T. – Direktur Sistem dan Strategi Pembangunan Perumahan Perdesaan.
