Kemajemukan di Maluku itu Anugerah, Menjaga Maluku Tetap Damai Adalah Misi Sapta Cita Lawamena

banner 468x60

KomenNews.id // Ambon – Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa mengatakan, kemajemukan Maluku adalah anugerah sekaligus keniscayaan yang harus dijaga secara serius. Hal itu disampaikan saat menghadiri dialog publik “Moderasi Beragama Sebagai Fondasi Harmoni Antar Umat Beragama di Maluku” yang digelar DPW Generasi Muda Mathla’ul Anwar (GEMA) Maluku di New Baileo Cafe, Jumat (27/02/2026).

Kata Gubernur, pentingnya menjaga kehidupan horizontal antarwarga sebagai fondasi stabilitas daerah. “Menjaga Maluku tetap damai merupakan bagian dari misi Sapta Cita Lawamena, khususnya dalam menjaga dan merawat kohesi sosial.

banner 336x280

Menurutnya, stabilitas keamanan menjadi salah satu syarat utama masuknya investasi di daerah. Konflik komunal akan menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.

Dalam kesempatan itu, dia mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk senantiasa mendukung TNI/Polri dalam menjaga keragaman dan kedamaian di tengah masyarakat.

Menyoroti dinamika informasi publik, Hendrik mengatakan, menjaga etika jurnalisme di era digital juga sangat penting, agar tidak terjebak pada isu hoaks atau framing negatif yang tidak berdasar. Seperti tudingan anti-Islam yang dialamatkan kepadanya.

“Saya tidak anti kritik. Saya menerima masukan, namun kritik harus berbasis data, fakta, konfirmasi, dan verifikasi,”tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Politisi PPP Maluku, Rovik Akbar Afifudin yang juga hadir sebagai narasumber pada dialog tersebut.

Menyoroti peran generasi muda dalam ruang publik, Rovik menegaskan, pemuda memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Peran generasi muda tidak hanya sebagai konsumen informasi.

“Apabila ada pihak yang membangun kembali narasi perpecahan, maka pihak tersebut sedang mundur ke belakang, bukan maju ke depan,” cetus Anggota DPRD Provinsi Maluku ini.

Dia menegaskan, setiap pemuda bertanggung jawab meninggalkan legacy bagi generasi berikutnya. “Harmoni dan persatuan harus menjadi warisan utama generasi saat ini,” tandasnya.

Di kesempatan yang sama, Akademisi UIN A.M. Sangadji Ambon, Dr. M. Asrul Pattimahu, MA menyampaikan, keragaman adalah realitas yang tak terhindarkan, sebagaimana yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang penciptaan manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.

Sebutnya, tidak ada peradaban yang dibangun dalam komunitas homogen. Pengetahuan justru tumbuh dalam masyarakat plural karena adanya perjumpaan antarbangsa dan pertukaran budaya.

Dia mencontohkan praktik keagamaan Islam di Maluku sebagai refleksi akulturasi peradaban: baju koko berakar dari budaya Tiongkok, gamis dari Arab, jas dari Eropa, dan sarung dari Nusantara.

“Identitas keagamaan di Maluku terbentuk melalui interaksi lintas budaya,” imbuhnya.

Kata dia, manusia hidup dalam dunia tafsir. Yang sering dibela bukan agamanya secara murni, melainkan tafsir-tafsir atas agama tersebut.

Menyinggung fragmentasi sosial pasca konflik 1999, Asrul mengakui bahwa, sebelum konflik itu masyarakat hidup berdampingan dalam satu kompleks antara basudara Muslim dan Kristen. Namum setelah konflik, terjadi pemisahan sosial berbasis identitas agama.

Asrul juga menyoroti dinamika media sosial. Ruang digital kerap gagal membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Fenomena post-truth membuat kebenaran diukur dari seberapa banyak informasi dibagikan, bukan dari validitasnya.

“Memperbanyak perjumpaan langsung, intensitas pertemuan antarwarga justru akan mendorong pertukaran informasi dan memperkecil prasangka,” tuturnya.

Narasumber lainnya, Pdt. Grace S. Surwuy, S.Pd.K, salah satu akademisi dari Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam memperkuat harmoni sosial.

Ambil misal, praktik konkret di dunia pendidikan, di mana terdapat doktor dan tokoh-tokoh Islam yang menyelesaikan pendidikan di UKIM, Itu menjadi jembatan relasi lintas iman yang nyata.

“Kolaborasi lintas institusi dan lintas agama adalah fondasi membangun harmoni yang indah dan berkelanjutan di Maluku,” cetus Surwuy. (Sam)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *