Peringatan hari jadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 16 April 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai pengabdian, kehormatan, dan jati diri prajurit Komando. Tidak sekadar seremoni tahunan, momen ini menjadi pengingat akan dedikasi tanpa batas para prajurit dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
KomenNews.id // Jakarta – Hal tersebut disampaikan Letkol Inf G. Borlak, yang saat ini tengah menempuh pendidikan S3 Doktoral Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Universitas Negeri Jakarta. Ia menegaskan bahwa Kopassus telah membentuk karakter prajurit yang tidak hanya tangguh di medan tugas, tetapi juga memiliki integritas tinggi dalam kehidupan.
“Bagi saya, Dirgahayu Kopassus adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen pengabdian kepada bangsa dan negara. Meski telah purna tugas, tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik korps tetap melekat,” ujarnya.
Sebagai satuan elite di bawah naungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Kopassus memiliki sejarah panjang dalam berbagai operasi militer maupun tugas kemanusiaan. Prajurit Kopassus dikenal luas karena disiplin tinggi, keberanian luar biasa, serta loyalitas yang tidak tergoyahkan.
Namun demikian, perkembangan zaman menuntut adanya adaptasi dan inovasi. Tantangan modern seperti kemajuan teknologi, perubahan pola konflik, hingga tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan profesionalisme menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi.
Dalam perspektif akademisnya, Borlak menilai bahwa ancaman di masa depan tidak lagi hanya bersifat konvensional. Isu-isu seperti krisis lingkungan, konflik sumber daya, serta dinamika demografi berpotensi menjadi sumber instabilitas baru yang memerlukan perhatian serius.
“Prajurit Kopassus harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Tidak hanya unggul dalam kemampuan militer, tetapi juga memahami persoalan sosial dan lingkungan strategis,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga soliditas dan integritas di lingkungan keluarga besar Kopassus. Nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI harus terus dijunjung tinggi sebagai landasan moral dalam setiap tindakan.
Dalam refleksi personalnya, menjadi prajurit Komando bukan sekadar profesi, melainkan sebuah jalan hidup yang sarat makna. Semboyan “Berani, Benar, Berhasil” menjadi prinsip yang dipegang teguh dalam setiap penugasan.
“Setiap tugas mengandung risiko tinggi. Karena itu, bisa kembali berkumpul bersama keluarga adalah anugerah yang luar biasa. Di situlah kita belajar tentang arti keikhlasan dalam pengabdian,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung nilai kehormatan yang tinggi dalam diri prajurit Komando, yang tercermin dalam ungkapan “lebih baik pulang nama daripada gagal di medan laga.”
Kopassus, lanjutnya, telah melahirkan banyak kesatria dan pemimpin bangsa yang mengabdi tanpa pamrih. Pengabdian tersebut tidak berhenti ketika masa dinas berakhir, melainkan terus berlanjut dalam kehidupan bermasyarakat sebagai teladan dan penjaga nilai kebangsaan.
“Pengabdian seorang prajurit tidak pernah benar-benar selesai. Kami tetap memiliki peran dalam menjaga persatuan dan menjadi contoh di tengah masyarakat,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Borlak menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh prajurit Kopassus di manapun bertugas.
“Selamat ulang tahun Kopassus. Teruslah menjadi garda terdepan dan kekuatan utama bagi NKRI. Jadilah prajurit yang profesional, modern, dan selalu dicintai rakyat,” tutupnya.
