Di balik riuhnya perdebatan kebijakan di tingkat pusat, sebuah transformasi sunyi sedang terjadi di ruang-ruang kelas Maluku. Bagi anak-anak di kepulauan ini, sepiring makanan hangat bukan sekadar program pemerintah—ia adalah alasan untuk tetap tersenyum, bertahan di sekolah, dan merajut mimpi yang setinggi langit.
KomenNews.id // Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan secara nasional kini mulai menampakkan taring positifnya di akar rumput. Lebih dari sekadar pemenuhan nutrisi, program ini menjelma menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi desa-desa di Maluku sekaligus penahan laju angka putus sekolah.
Menghidupkan Dapur Desa, Menggerakkan Ekonomi Lokal
Dari sudut pandang kebijakan (*hardnews*), implementasi Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat daerah membutuhkan pengawasan ketat agar tepat sasaran. Di sinilah peran strategis **Farida Rahangiar, S.Sos.**, seorang tokoh perempuan Maluku dengan rekam jejak panjang di dunia sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Sebagai Ketua Aliansi Pemantau Program BGN Provinsi Maluku (APPBGN), Farida menegaskan bahwa program ini membawa efek domino yang luar biasa bagi ketahanan pangan lokal jika dikelola dengan prinsip kemandirian desa.
“Makan Bergizi Gratis ini bukan proyek titipan komoditas luar. Kami di APPBGN mengawal ketat agar bahan bakunya—mulai dari ikan segar, sayur-mayur, hingga beras—wajib diserap dari hasil bumi peternak, nelayan, dan petani lokal Maluku,” ujar Farida saat diwawancarai media ini, Minggu malam (21/06/2026), di Jakarta.
Selaku Ketua Himpunan Desa Mandiri Indonesia (HDMI) Provinsi Maluku, Farida melihat program ini sebagai stimulus emas bagi pemulihan ekonomi pasca-pandemi di tingkat desa. Lewat optimalisasi peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD)—di mana Farida juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Persatuan Anggota Badan Permusyawaratan Desa Seluruh Indonesia (PABPDSI) Maluku —pemerintah desa didorong untuk aktif melahirkan regulasi yang mendukung rantai pasok makanan ini.
“Ketika dapur umum BGN beroperasi di desa, yang tersenyum bukan cuma anak-anak sekolah, tapi juga ibu-ibu kelompok wanita tani yang sayurnya dibeli, dan nelayan tradisional yang ikannya langsung terserap dengan harga layak,” tambahnya dengan nada optimis.
Sisi Humanis: Senyum Anak Maluku dan Beban Ibu yang Terangkat
Namun, di luar angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi desa, dampak paling menyentuh dari program ini ada pada raut wajah anak-anak dan para ibu di pelosok Maluku.
Sebelum program ini berjalan, tidak sedikit anak-anak di wilayah pesisir dan pegunungan Maluku yang harus berjalan kaki berkilo-kilometer ke sekolah dengan perut kosong atau sekadar diganjal sagu seadanya. Kemiskinan ekstrem membuat sarapan bergizi menjadi barang mewah bagi sebagian keluarga.
Farida, yang bergerak langsung di akar rumput melalui perannya sebagai Pembina Yayasan Mahina Timur Peduli, menceritakan kisah-kisah mengharukan yang ia temui di lapangan.
“Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak begitu lahap menyantap telur, susu, dan ikan yang disediakan. Ada seorang ibu yang berkaca-kaca menemui saya, dia bilang, *‘Ibu, uang yang biasa buat beli jajan anak sekarang bisa saya simpan untuk beli buku dan keperluan rumah tangga yang lain’*,” kenang Farida emosional.
Bagi Yayasan Mahina Timur Peduli, sebuah lembaga yang fokus pada isu perempuan dan anak di wilayah Timur, kehadiran program ini secara langsung membantu menekan angka stunting (tengkes) yang selama ini menjadi momok di Maluku akibat wilayah geografis yang berciri kepulauan.
Sinergi Kawasan: Menjaga Asa dari Maluku hingga Papua
Tantangan geografis Maluku yang didominasi lautan dan gugusan pulau kecil menuntut pengawasan yang ekstra berani. Sebagai sosok yang juga dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum (Wakeum) Barisan Relawan Nusantara Raya Wilayah Maluku-Papua, Farida memandang program ini memiliki dimensi kebangsaan yang sangat kuat.
Makan Bergizi Gratis adalah jembatan keadilan sosial bagi anak-anak di Indonesia Timur agar tidak lagi tertinggal dari saudara-saudara mereka di wilayah barat.
Berikut skema dampak positif menurut Farida ;
“Kami di Barisan Relawan Nusantara Raya berkomitmen menjaga agar komitmen Presiden ini berjalan tanpa hambatan birokrasi di wilayah Maluku dan Papua. Ini adalah investasi manusia. Anak-anak di Kei, di Aru, di Banda, hingga di pedalaman Papua berhak mendapatkan protein yang sama dengan anak-anak di Jakarta,” tegas srikandi sosial Maluku ini.
Menatap Masa Depan
Perjalanan program Makan Bergizi Gratis di Maluku memang masih panjang dan membutuhkan evaluasi berkala. Masalah distribusi ke pulau-pulau terluar tetap menjadi tantangan yang nyata. Namun, dengan sinergi antara aliansi pemantau, pemerintah desa, dan yayasan peduli seperti yang digerakkan oleh Farida Rahangiar, program ini terbukti bukan sekadar bagi-bagi makanan.
Ia adalah gerakan kebudayaan baru. Gerakan yang memastikan bahwa di masa depan, tidak boleh ada lagi anak Maluku yang gagal meraih mimpinya hanya karena kalah bertarung melawan rasa lapar di bangku sekolah. Dari sepiring makanan gratis, Maluku sedang menyiapkan generasi emas yang sehat, cerdas, dan mandiri dari desa.
