Ketahanan Energi di Titik Rawan: Cadangan BBM Nasional Hanya 26 Hari

Berita, Ekonomi11 Dilihat
banner 468x60

KomenNews.Id||Jakarta — Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen, mengingatkan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang hanya mampu bertahan 21–26 hari mencerminkan kerentanan serius dalam ketahanan energi Indonesia.

 “Secara administratif mungkin masih dianggap aman, tetapi secara strategis ini sangat rentan. Cadangan 26 hari tidak cukup untuk sebesar Indonesia dalam menghadapi krisis global yang berkepanjangan,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

banner 336x280

Ketergantungan Impor Jadi Titik Lemah
Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah dan BBM per hari untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini, menurut Silaen, menciptakan risiko ganda: gangguan suplai dan lonjakan harga. Situasi semakin krusial di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur vital distribusi minyak dunia, seperti Selat Hormuz.

“Gangguan sekecil apa pun di kawasan itu bisa langsung berdampak pada harga dan pasokan minyak global,” jelasnya.

Dampak Sistemik ke Ekonomi Nasional
Silaen menilai keterbatasan cadangan energi akan berdampak luas pada perekonomian. Kenaikan harga minyak dapat menekan subsidi BBM, memicu inflasi, menurunkan daya beli, hingga memengaruhi stabilitas ekonomi. Selain itu, tingginya impor energi berpotensi menekan nilai tukar rupiah akibat meningkatnya kebutuhan devisa.

Paradoks Ketahanan Energi
Meski Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber impor dari Afrika dan Amerika Serikat, Silaen menilai langkah itu belum menyentuh persoalan mendasar. Ia membandingkan dengan Jepang yang memiliki cadangan strategis hingga 120 hari, jauh di atas Indonesia.

 “Masalah kita bukan hanya dari mana membeli minyak, tetapi seberapa lama kita bisa bertahan tanpa pasokan baru. Di sinilah letak kelemahan kita,” ujarnya.

Energi Sebagai Instrumen Geopolitik
Dalam konteks global, energi kini menjadi instrumen kekuasaan strategis. Negara-negara tertentu dapat memanfaatkan posisi geografis maupun kontrol jalur distribusi untuk menciptakan tekanan ekonomi.

 “Energi hari ini bukan sekadar komoditas, tetapi alat tekanan geopolitik,” kata Silaen.

Desakan Perkuat Cadangan Strategis
Silaen mendorong pemerintah segera memperkuat ketahanan energi nasional dengan membangun cadangan strategis minimal 60–90 hari, mempercepat diversifikasi energi, memperkuat infrastruktur kilang dan penyimpanan, serta memastikan subsidi lebih tepat sasaran.

Ketahanan Energi = Kedaulatan Negara
Ia menegaskan bahwa isu cadangan BBM tidak lagi sekadar teknis, melainkan menyangkut kedaulatan negara.

“Ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan. Jika kita masih bergantung pada impor dan tidak memiliki cadangan yang kuat, maka stabilitas kita sangat ditentukan oleh kondisi global,” pungkasnya.

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *