KomenNews.Id||Jakarta — Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan), Budi Mulyawan, menegaskan bahwa program Koperasi Merah Putih yang baru diluncurkan pemerintah harus dijalankan sesuai jati diri koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat, bukan sekadar proyek administratif.
“Koperasi itu dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Prinsip dasar ini tidak boleh bergeser,” ujar Budi dalam keterangan resmi, Selasa (24/3).
Menurutnya, koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan organisasi kolektif yang dibangun atas asas kesetaraan, kebersamaan, dan gotong royong. Ia mengingatkan kembali pemikiran Bung Hatta yang menempatkan koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat, bukan sekadar sarana mencari keuntungan.
Tantangan Koperasi di Lapangan
Budi menyoroti berbagai persoalan klasik yang masih membelit koperasi di Indonesia, mulai dari lemahnya manajemen, keterbatasan modal, hingga rendahnya pemahaman anggota terhadap prinsip koperasi. Ia menilai banyak koperasi gagal bukan karena konsepnya salah, melainkan karena pengelolaan yang tidak sesuai prinsip dasar.
Selain itu, citra koperasi di mata masyarakat masih beragam. Sebagian melihatnya sebagai solusi ekonomi rakyat, namun tidak sedikit yang menganggap koperasi tidak profesional dan rawan penyalahgunaan akibat praktik yang tidak transparan.
Potensi dan Risiko Program Koperasi Merah Putih
Program Koperasi Merah Putih yang bertujuan membangun koperasi di tingkat desa dengan dukungan pembiayaan hingga miliaran rupiah dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi lokal. Namun, Budi mengingatkan agar implementasi program tidak sekadar mengejar kuantitas.
“Jangan sampai koperasi dibentuk hanya untuk mengejar target angka. Koperasi yang tidak sehat justru akan menjadi beban dan merusak kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti risiko ketergantungan koperasi pada subsidi dan bantuan pemerintah. Menurutnya, prinsip kemandirian harus tetap dijaga agar koperasi tidak kehilangan ruh sebagai gerakan rakyat.
Dukungan Pemerintah dan Inovasi
Meski kritis, Budi mengakui pentingnya peran pemerintah dalam menciptakan ekosistem kondusif melalui kebijakan, pendidikan, pelatihan, serta akses teknologi dan pasar. Pemerintah juga mendorong digitalisasi koperasi agar lebih efisien dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Selain itu, koperasi didorong untuk berinovasi di berbagai sektor, mulai dari pertanian organik hingga energi terbarukan. Namun, Budi menekankan bahwa kesiapan kelembagaan dan manajemen tetap menjadi syarat utama.
Optimisme di Era Globalisasi
Dalam era globalisasi, Budi optimistis koperasi tetap relevan sebagai solusi menghadapi ketimpangan ekonomi dan dominasi korporasi besar. Ia menilai koperasi dapat meningkatkan daya saing UMKM, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat ekonomi lokal jika dijalankan secara modern, inovatif, dan adaptif terhadap teknologi.
“Potensinya besar, tapi tantangannya juga besar. Kuncinya ada pada kualitas manajemen, partisipasi anggota, dan pengawasan yang kuat,” ujarnya.
Budi menegaskan bahwa masa depan koperasi, termasuk Koperasi Merah Putih, bergantung pada komitmen untuk kembali pada nilai-nilai dasar koperasi. Tanpa itu, koperasi hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak nyata.
“Kalau dijalankan sesuai prinsip, koperasi bisa jadi solusi besar bagi ekonomi nasional. Tapi kalau melenceng, justru akan menjadi masalah baru. Ini yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (Red).














